Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ramai Mural Kritik dan Baliho Politisi, Pakar Unair Sebut Keduanya Punya Tujuan Sama

Ramai Mural Kritik dan Baliho Politisi, Pakar Unair Sebut Keduanya Punya Tujuan Sama Kritisi pemerintah dengan deni Mural. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Pusat Studi Industri Kreatif Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Igak Satrya Wibawa mengungkapkan bahwasanya mural dikenal sebagai media komunikasi masyarakat.

"Mural adalah salah satu bentuk streetart, menjadi media komunikasi yang cukup sering digunakan masyarakat dalam menyampaikan pesan, harapan dan kritik kepada pihak yang punya privilege atau kekuasaan tertentu," tutur Igak, Kamis (19/8/2021).

Di Ruang Publik

pesan moral mural kemerdekaan

©2021 Fimela.com/Bambang E Ros

Ia menyebut mural memiliki makna dan pesan mendalam.

“Kebanyakan ditempatkan di ruang publik dengan tujuan dilihat banyak orang," imbuh pengajar mata kuliah Visual Culture & Creative Arts di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unair tersebut.

Terkait etika dan perizinan mural di ruang publik, Igak mengatakan bahwa hal tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi.

"Jika dikaitkan dengan dimensi etis, tentunya public property idealnya tidak dapat dipakai tanpa adanya izin. Namun ini menjadi paradoks bila dilihat dari dimensi perlawanan, yaitu kasusnya harus menabrak etika, karena namanya juga perlawanan," ungkapnya, dikutip dari Liputan6.com.

Mural sebagai simbol perlawanan, kritik atau harapan sah-sah saja ditempatkan di ruang publik agar dilihat dan didengar banyak orang.

"Untuk itu agak susah bila kita menghadapkan seni dan aturan, karena dalam seni kadang harus membenturkan keduanya," lanjutnya.

Tujuan Sama dengan Baliho

baliho puan maharani di jateng

©2021 Liputan6.com

Menurut Igak mural berisi kritik sosial sama halnya dengan baliho yang berisi pesan-pesan politis. Keduanya sama-sama memanfaatkan ruang publik sebagai saluran penyampaian pesan.

"Hanya bedanya, mereka yang ofisial punya kuasa, wewenang dan memiliki privilege tertentu menggunakan baliho. Sedangkan masyarakat yang tidak memiliki privilege dan melihat ruang-ruang penyampaian pendapat banyak tersumbat di sana-sini, akhirnya memilih mural sebagai media yang frontal dan efektif dalam menyampaikan pesan," jelasnya.

Di era digital seperti sekarang saat semua orang bisa mengabarkan apa saja, siapapun yang menjadi sasaran kritik melalui mural harus memperhatikan tanggapan yang diberikan.

"Karena apapun bisa menjadi sesuatu yang besar bila direspons dengan cara yang salah, dan bila ditanggapi secara reaktif maka kemungkinan akan semakin menggaungkan pesan dalam mural," pungkasnya.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP