Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Potret Rumah Pahlawan Perobek Bendera Belanda, Tersisa Dinding Tanpa Atap

Potret Rumah Pahlawan Perobek Bendera Belanda, Tersisa Dinding Tanpa Atap Potret rumah Mbah Besari, perobek bendera Belanda di Hotel Yamato. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Kota Surabaya, Jawa Timur pada 19 September 1945 merupakan salah peristiwa heroik yang terus dikenang masyarakat Indonesia.

Saat itu, sejumlah pemuda Indonesia yang sebagian besar merupakan arek-arek Suroboyo memanjat bangunan hotel untuk merobek bendera Belanda.

Akhirnya Bendera Belanda yang berwarna merah-putih-biru itu berubah menjadi Bendera Indonesia setelah bagian kain warna birunya dirobek oleh sejumlah pemuda pemberani.

Rumah Mbah Besari

      View this post on Instagram      

A post shared by Kuliner Indonesia (@kuliner_nglencer)

Salah satu pemuda yang turut merobek bagian kain warna biru Bendera Belanda itu kemudian dikenal dengan panggilan akrab Mbah Besari.

Hingga kini, rumahnya di Kampung Lawang Seketeng gang IV, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya masih ada.

Namun, kondisi rumah yang diperkirakan dibangun pada tahun 1930-an itu tampak tidak terurus. Bangunan rumah itu hanya tersisa dinding, sementara bagian atapnya hanya tersisa kayu-kayu kerangka penopang genteng.

Kampung Tertua

kampung lawang seketeng kampung tertua di surabaya

©2022 Merdeka.com/Instagram @surabayasparkling

Dikutip dari RRI, Kampung Lawang Seketeng merupakan kampung tertua di Kota Surabaya yang sudah berdiri sejak 1893.

Tidak hanya itu, Kampung Lawang Seketeng juga menjadi saksi Kota Surabaya mendapat anugerah sebagai Kota Pahlawan.

Di kampung ini terdapat rumah kayu dengan atap seng yang masih menyimpan bekas tembakan dari pesawat tempur.

Bangunan Cagar Budaya

kampung lawang seketeng kampung tertua di surabaya

©2022 Merdeka.com/Instagram @surabayasparkling

Selain itu, di kampung ini juga terdapat cukup banyak bangunan bersejarah. Di antaranya, Langgar Dukuh Kayu, Terakota atau saluran air terbuat dari tanah liat yang sudah ada pada zaman Hindia Belanda, hingga sumur yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Majapahit.

Ada pula makam Mbah Pitono yang tidak lain adalah Guru Ngaji Presiden Pertama RI, Bung Karno.

Ditemukan pula beberapa benda peninggalan sejarah seperti tombak dan Alquran tulisan tangan.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP