Menyingkap Keunikan Upacara di Pesisir Pantai Trenggalek
Merdeka.com - Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tepatnya di sebelah selatan. Di bagian utara, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo. Di timur berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan.
Kabupaten ini terdiri dari 14 kecamatan, 5 kelurahan, dan 152 desa. Kabupaten ini memiliki potensi pertanian, perkebunan, serta industri yang cukup baik. Bidang pertanian antara lain menghasilkan komoditas seperti kedelai, jagung, padi, kacang, dan singkong. Tembakau, durian, salak, duku, manggis, rambutan, tebu, dan cengkih merupakan hasil perkebunan di Kabupaten Trenggalek. Sementara industri yang beroperasi di kabupaten ini antara lain ada industri batik, bahan bangunan, makanan ringan, pengeringan ikan, pembuatan sirup, tapioka, kecap, tahu, dan lain sebagainya.
Sebagai bagian pesisir laut selatan, Trenggalek memiliki pesona laut yang indah. Beberapa pantai yang terkenal antara lain Pantai Prigi, Pantai Pasir Putih, Pantai Blado, Pantai Ngampiran, dan Pantai Pelang. Di Pantai Prigi, setahun sekali diadakan upacara pesisir Larung Sembonyo. Selain Larung Sembonyo, ada juga upacara Dam Bagong yang diadakan di Kali Bagong.
Upacara Larung Sembonyo

2020 Merdeka.com/humassetda.trenggalekkab.go.id
Buku Informasi Pariwisata dan Budaya Kabupaten Trenggalek menjelaskan bahwa Upacara Larung Sembonyo secara besar-besaran pertama kali digelar pada tahun 1985. Sebelum tahun 1985, upacara tradisi ini berhenti karena situasi politik yang serba tidak menentukan.
Dalam Bahasa Jawa, kata Larung berarti menghanyutkan. Sementara Sembonyo merupakan boneka tiruan pengantin yang dibuat dari tepung ketan. Boneka pengantin ini didudukkan di atas perahu dengan peralatan untuk mengemudikan perahu. Upacara ini juga dilengkapi dengan sesaji atau seserahan seperti layaknya yang terjadi dalam upacara pernikahan menurut tradisi Jawa.
Upacara Larung Sembonyo sendiri adalah wujud syukur masyarakat Prigi atas keselamatan nelayan selama melaut serta tangkapan ikan yang melimpah. Selain nelayan, upacara ini biasanya juga diikuti oleh para petani.
Upacara tradisi ini digelar pada Senin Kliwon di Bulan Selo sesuai penanggalan Jawa. Masyarakat percaya apabila upacara ini tidak dilaksanakan, maka akan menimbulkan berbagai bencana, seperti gangguan di laut, kesulitan menangkap ikan, gagal panen, dan bencana lainnya.

2020 Merdeka.com/yukpiknik.com
Sebelum pelaksanaan Larung Sembonyo, digelar malam widodaren untuk membuat boneka tiruan pengantin, kembang mayang, dan menyiapkan sesaji serta kesenian jaranan sebagai pengiring upacara keesokan harinya. Pada hari pelaksanaan Larung Sembonyo, arak-arakan diberangkatkan dari kantor Kecamatan Watulimo menuju tempat pelelangan ikan. Tempat pelelangan ikan yang dituju sudah dihiasi layaknya tempat penyelenggaraan pesta pernikahan.

2020 Merdeka.com/humassetda.trenggalekkab.go.id
Setelah prosesi di tempat pelelangan ikan, Sembonyo dan segala perlengkapan upacara dilarung ke tengah laut menggunakan perahu nelayan. Hal ini merupakan bagian yang paling menarik wisatawan. Panitia penyelenggara kegiatan menyiapkan perahu yang bisa dinaiki wisatawan.
Dengan demikian, wisatawan yang hadir bisa menyaksikan prosesi upacara di tengah laut. Sampai sekarang, upacara Larung Sembonyo ini masih rutin digelar masyarakat Prigi dan menjadi salah satu agenda tahunan di Kabupaten Trenggalek yang sayang untuk dilewatkan.
Upacara Dam Bagong

2020 Merdeka.com/jatim.antaranews.com
Upacara Dam Bagong dikenal sebagai upacara bersih desa yang digelar di kawasan Kali Bagong. Upacara ini merupakan wujud penghormatan terhadap jasa Ki Ageng Menak Sopal yang berjasa dalam pembangunan Dam Bagong. Fungsi Dam Bagong ialah untuk mengairi persawahan di Kelurahan Ngantru, Surondakan, Sumbergedong, Tamanan, Sambirejo, Pogalan, dan beberapa desa lain.
Upacara Dam Bagong biasanya diselenggarakan pada Jumat Kliwon di bulan Selo menurut penanggalan Jawa. Dalam upacara ini, dikorbankan seekor kerbau yang disembelih. Kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilemparkan ke sungai dan diperebutkan oleh masyarakat sekitar. Ada anggapan bahwa barang siapa yang berhasil mendapatkan kepala kerbau, maka akan mendapat keberkahan dalam kehidupannya. Rangkaian upacara Dam Bagong ditutup dengan pegelaran wayang kulit semalam suntuk.

2020 Merdeka.com/budayajawa.id
Rangkaian kegiatan upacara Dam Bagong dimulai dengan penyembelihan kerbau pada malam hari sebelumnya, kemudian ruwatan atau bersesaji yang dilakukan oleh dalang. Keesokan harinya, bupati dan masyarakat akan berjalan dari kawasan makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong untuk melakukan proses inti upacara. Kepala, kaki, kulit, dan tulang-tulang kerbau dilemparkan ke dalam Dam Bagong. Setelah proses pelemparan itu, masyarakat melakukan kegiatan makan bersama dengan menu daging kerbau yang sudah dimasak.
Menurut mantan bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, budaya Nyadran Dam Bagong merupakan budaya warisan leluhur yang patut dilestarikan. Nyadran Dam Bagong juga merupakan wujud mengenang penokohan dan jasa Menak Sopal dalam menata irigasi pengairan di wilayah Trenggalek.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya