Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ciri-Ciri Keracunan Makanan yang Jarang Disadari, Pahami Pertolongan Pertamanya

Ciri-Ciri Keracunan Makanan yang Jarang Disadari, Pahami Pertolongan Pertamanya Ilustrasi mual. ©2015 Merdeka.com/shutterstock

Merdeka.com - Mengetahui apa saja ciri-ciri keracunan makanan adalah hal yang penting. Hal ini bertujuan agar Anda bisa dengan segera mendapatkan pertolongan pertama yang diperlukan.

MenurutPusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika,ciri-ciri keracunan makanan bisa bervariasi antara ringan dan sangat serius. Gejala yang nampak pun akan berbeda-beda tergantung kuman yang tertelan.

Keracunan makanan adalah penyakit yang disebabkan oleh tertelannya makanan yang terkontaminasi. Organisme menular seperti bakteri, virus dan parasit adalah penyebab paling umum keracunan makanan.

Keracunan makanan sendiri jarang menjadi kondisi kesehatan yang mengancam jiwa. Umumnya, keracunan makanan akan membaik dalam kurun waktu satu minggu apabila segera ditangani dengan tepat.

Lantas, apa saja ciri-ciri keracunan makanandan bagaimana cara tepat untuk mengatasinya? Dilansir dari berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya.

Ciri-Ciri Keracunan Makanan

Seperti yang telah disebutkan di atas, gejala atau ciri-ciri keracunan makanan biasanya bervariasi karena tergantung pada sumber kontaminasi.

Meski demikian, sebagian besar jenis keracunan makanan menyebabkan satu atau lebih dari ciri-ciri berikut, dilansir dari Healthline dan Mayo Clinic;

  • kram perut
  • diare
  • mual
  • muntah
  • kehilangan selera makan
  • demam ringan
  • tubuh lemah
  • sakit kepala
  • Ciri-ciri keracunan makanan ini dapat terjadi secara bersamaan atau dalam kombinasi. Gejala umumnya memiliki onset yang tiba-tiba (akut) dan tingkat keparahan gejala sangaat bervariasi.

    Muntah biasanya terjadi lebih awal seseorag keracunan, lalu disusul diare yang berlangsung selama beberapa hari. Sementara itu, ciri-ciri keracunan makanan lain yang berpotensi mengancam jiwa meliputi:
  • diare yang berlangsung lebih dari 3 hari
  • demam lebih tinggi dari 102 ° F (38,9 ° C)
  • kesulitan melihat atau berbicara
  • gejala dehidrasi parah seperti mulut kering, susah atau sering buang air kecil
  • kencing berdarah
  • Jika Anda mengalami atau melihat seseorang dengan ciri-ciri keracunan makanan seperti yang disebutkan, sebaiknya segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan medis.

    Penyebab Keracunan Makanan

    Kebanyakan penyebab keracunan makanan dapat ditelusuri ke salah satu dari hal ini, yakni bakteri, parasit, atau virus. Patogen ini dapat ditemukan di hampir semua makanan yang dimakan manusia. Namun, panas dari memasak makanan biasanya akan membunuh patogen pada makanan sebelum mencapai piring dan mulut manusia.

    Untuk itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa makanan yang dimakan mentah adalah sumber utama keracunan makanan karena tidak melalui proses memasak. Penyebab lainnya, makanan bersentuhan dengan organisme dalam kotoran atau muntahan.

    Hal tersebut kemungkinan besar terjadi ketika orang yang sakit menyiapkan makanan dan tidak mencuci tangan sebelum memasak. Daging, telur, dan produk susu adalah jenis makanan yang paling sering terkontaminasi. Air juga dapat terkontaminasi dengan organisme yang menyebabkan penyakit.

    1. Bakteri

    Bakteri sejauh ini merupakan penyebab paling umum dari keracunan makanan. Bakteri penyebab keracunan makanan meliputi:

  • E. coli, khususnya E. coli (STEC) penghasil racun Shiga
  • Listeria monocytogenes
  • Salmonella
  • Campylobacter
  • Clostridium botulinum
  • Stafilokokus aureus
  • Shigella
  • Vibrio vulnificus
  • 2. Parasit

    Keracunan makanan yang disebabkan oleh parasit tidak biasa seperti keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri. Parasit yang menyebar melalui makanan bisa sangat berbahaya. Jenis parasit ini termasuk:

  • Toksoplasma gondii
  • Giardia lamblia
  • berbagai cacing pita, seperti:
  • Taenia saginata (cacing pita sapi)
  • Taenia solium (cacing pita babi)
  • Diphyllobothrium latum (cacing pita ikan)
  • Cryptosporidium
  • Ascaris lumbricoides, sejenis cacing gelang
  • cacing pipih (flatworms), seperti Opisthorchiidae (cacing hati) dan Paragonimus (cacing paru-paru)
  • cacing kremi, atau Enterobiasis
  • Trichinella
  • 3. Virus

    Keracunan makanan juga bisa disebabkan oleh virus, seperti:

  • norovirus, yang terkadang dikenal sebagai virus Norwalk
  • rotavirus
  • virus astro
  • virus sapo
  • virus hepatitis A
  • Cara Mengatasi Keracunan Makanan

    Keracunan makanan biasanya dapat diobati di rumah. Berikut adalah beberapa cara untuk membantu mengobati keracunan makanan:

    1. Pastikan tubuh tetap terhidrasi

    Jika Anda mengalami keracunan makanan, sangat penting untuk tetap terhidrasi dengan baik. Minuman olahraga tinggi elektrolit dapat membantu agartubuh tetap terhidrasi. Jus buah dan air kelapa juga merupakan pilihan yang baik, karena mereka dapat mengembalikan karbohidrat dan membantu mengatasi kelelahan.

    Hindari konsumsi kafein, karena ia dapat mengiritasi saluran pencernaan. Teh tanpa kafein dengan ramuan yang menenangkan seperti chamomile, peppermint, dan dandelion dapat membantu menenangkan sakit perut akibat keracunan makanan.

    2. Minum obat yang dijual bebas (OTC)

    Obat bebas (OTC) seperti loperamide (Imodium) dan Pepto-Bismol dapat membantu Anda mengatasi diare dan menekan mual karena keracunan makanan. Namun, Anda harus berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat ini, ya.

    Karena, tubuh menggunakan muntah dan diare untuk membersihkan sistem toksin. Juga, menggunakan obat-obatan ini dapat menutupi keparahan penyakit dan menyebabkan Anda menunda mencari perawatan ahli.

    3. Minum obat resep dokter

    Ya, ini adalah cara mengatasi keracunan makanan yang paling tepat dan ampuh. Meskipun banyak kasus keracunan makanan akan sembuh dengan sendirinya, Anda dapat memperoleh manfaat dari obat resep dokter, tergantung pada patogen yang bertanggung jawab atas penyakit keracunan Anda.

    Obat resep dapat bermanfaat bagi orang-orang yang lebih tua, orang-orang yang memiliki gangguan kekebalan, atau ibu hamil. Untuk ibu hamil, pengobatan antibiotik dapat membantu mencegah infeksi menular ke bayi yang belum lahir.

    (mdk/edl)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP