Bekal Ramadhan, Ketahui Filosofi Ajaran Moh Limo Karya Sunan Ampel
Merdeka.com - Sunan Ampel merupakan salah satu dari penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Setiap hari makamnya selalu dikunjungi peziarah, bahkan di musim Corona seperti saat ini.
Dikutip dari berbagai sumber, kendatipun pihak pengelola Makam Sunan Ampel sudah menutup kawasan wisata religi itu, setiap hari masih ada peziarah yang datang. Hal ini membuktikan pengaruhnya dalam misi penyebaran Islam di masa lalu terus dihayati masyarakat sampai sekarang. Salah satu ajarannya yang melegenda adalah Moh Limo.
Dakwah Sunan Ampel di Surabaya

2015 Wonderful Indonesia
Dikutip dari eprints.iain-surakarta.ac.id, Sunan Ampel atau Raden Rahmat pertama kali datang ke Jawa pada abad ke-15 atau sekitar tahun 1446 Masehi. Raden Rahmat berdakwah di daerah Ampel Denta Surabaya. Sebutannya sebagai Sunan Ampel dilatarbelakangi oleh daerah tempatnya menyiarkan ajaran agama Islam.
Tugas utama Sunan Ampel adalah mengislamkan masyarakat Jawa yang saat itu mayoritas beragama Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Sunan Ampel kemudian mendirikan pesantren di wilayah Ampel Denta. Pesantren itu menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh bagi masyarakat di sekitarnya. Murid-muridnya yang telah dibekali ilmu pengetahuan mengenai agama Islam kemudian disebar ke berbagai daerah. Dua muridnya yang terkenal adalah Sunan Giri dan Raden Patah.
Sejarah Ajaran Moh Limo

2020 Merdeka.com/historyofjava.com
Pada masa awal kedatangan Sunan Ampel di Jawa, banyak perbuatan tercela yang dilakukan oleh masyarakat. Misalnya pangeran yang hidup berfoya-foya, gemar mabuk dan berjudi. Termasuk pengenaan uang pajak dan upeti kepada rakyat yang dilakukan oleh para adipati.
Disarikan dari Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Ajaran Moh Limo Sunan Ampel karya Ahmad Yulianto, sebagian masyarakat di Jawa kala itu menganut aliran Bhairawa Tantra. Aliran itu memiliki ritual panca ma yang berarti mamsa (daging), matsya (ikan), madya (minuman keras), maithuna (bersetubuh), dan mudra (semedi).
Melampaui Batas

2019 Merdeka.com/Nur Habibie
Dalam pelaksanaan ritual Bhairawa Tantra, para laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang membentuk lingkaran. Di tengah-tengahnya ada panca ma. Mereka makan dan minum minuman arak sampai mabuk.
Selanjutnya mereka akan melakukan seks bebas yang kemudian dilanjutkan dengan semedi bersama-sama. Raja Brawijaya melihat ritual tersebut sebagai suatu hal yang keterlaluan alias melampaui batas. Kemudian ia meminta tolong kepada Sunan Ampel supaya bisa mengatasi masalah tersebut.
Lahirlah Ajaran Moh Limo

2014 Merdeka.com
Sebagai respons atas curahan hati Raja Brawijaya, Sunan Ampel kemudian menawarkan ajaran Moh Limo. Ajaran tersebut berupa larangan melakukan lima hal, yakni moh ngombe (tidak mabuk), moh madat (tidak mengonsumsi narkoba), moh maling (tidak mencuri), moh main (tidak berjudi), dan moh medok (tidak melakukan zina).
Ajaran Moh Limo sendiri merupakan rekontruksi dari ajaran Bhairawa Tantra. Sunan Ampel mengubah isinya menjadi selaras dengan ajaran Islam. Pelaksanaan ajaran Bhairawa Tantra pun dicontoh, yakni dengan membentuk lingkaran dan ada makanan di tengahnya. Hanya saja, Sunan Ampel menciptakan kegiatan melingkar tersebut dengan acara berdoa bersama secara Islam. Pada perkembangannya, kegiatan tersebut dikenal dengan istilah kenduri.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya