Terbesar se-Asia, Ini 5 Fakta Unik Pabrik Gula Colomadu
Merdeka.com - Di zaman penjajahan dulu, Pulau Jawa menjadi salah satu penghasil gula terbesar di dunia. Namun predikat itu memudar sejak adanya Krisis Malasie atau “The Great Depression” yang melanda dunia pada periode 1925-1935.
Kondisi justru makin memprihatinkan di zaman pendudukan Jepang karena di masa itu banyak pabrik gula yang dihancurkan. Namun jejak-jejak kejayaan itu kini masih dapat terlihat, salah satunya adalah keberadaan Pabrik Gula Colomadu.
Dilansir dari laman Puromangkunegaran.com, Pabrik Gula Colomadu dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro IV pada 8 Desember 1861 di Desa Malangjiwan. Pada masa jayanya, pabrik gula ini mengekspor gula ke berbagai tempat, mulai dari Banda Neira, Singapura, hingga ke Negeri Belanda. Bahkan pada masa itu, pabrik gula ini menjadi yang terbesar se-Asia.
Pada tahun 1998, Pabrik Gula Colomadu ditutup karena kesulitan bahan baku. Barulah pada tahun 2017 pabrik ini dibuka kembali dengan sebuah nama baru “De Tjolomadoe” dan digunakan sebagai tempat wisata. Lalu apa saja keunikan bekas pabrik gula terbesar di Asia ini?
Pembangunan Pabrik Gula Colomadu

©Puromangkunegaran.com
Pabrik Gula Colomadu dibangun oleh Mangkunegaran IV pada tahun 1861 dengan biaya mencapai f400.000. salah satu sumber dana itu berasal dari keuntungan perkebunan kopi milik Praja Mangkunegaran.
Peralatan untuk produksi gula pada pabrik ini didatangkan langsung dari Eropa. Setelah jadi, pabrik ini dinamakan “Colomadu” yang artinya gunung madu. Harapannya, kehadiran pabrik ini bisa menjadi simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung.
Dikelola Pemerintah

©Puromangkunegaran.com
Pada tahun 1946, Pabrik Gula Colomadu yang sebelumnya dikelola oleh Mangkunegaran dinasionalisasi ke tangah Pemerintah Indonesia dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI).
Pada tahun 1981, pabrik gula ini diserahkan pengelolaannya kepada Perusahaan Nasional Perkebunan (PNP). Pada tahun 1996, pabrik gula ini masuk dalam wilayah pengelolaan PTPN IX dan kemudian pada 1 Mei 1998 ditutup karena kesulitan bahan baku.
Pada 4 April 2017, pabrik gula ini dibuka kembali oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. Rencananya, bekas pabrik gula itu akan dijadikan sebagai pusat kebudayaan di Jawa Tengah.
Berubah Fungsi

©2021 Liputan6.com
Setelah dibuka kembali, pabrik gula itu beralih fungsi menjadi tempat wisata dengan nama baru De Tjolomadoe. Kawasan itupun dipercantik dengan keberadaan coffee shop, stan kerajinan batik, serta stan busana musim. Tak hanya itu, di sana terdapat pula concert hall yang dilengkapi dengan restoran dan cafe.
Berbagai event diadakan secara meriah di tempat itu seperti bazar, talk show, dan kegiatan wisata buat anak-anak SD. Karena itulah, keberadaan pabrik itu memancing masyarakat umum untuk berkunjung. Mereka begitu menikmati suasana bekas pabrik itu dan mengabadikannya dengan kamera.
Punya Banyak Spot Instagramable

©2021 Liputan6.com
Dilansir dari Liputan6.com, tempat wisata De Tjolomadoe menyediakan berbagai spot Instagramable. Menurut Direktur Sinergi Colomadu, Wahyono Hidayat, semua tempat di De Tjolomadoe sangat unik dan bisa dijadikan latar untuk berfoto. Nantinya, tempat itu akan menjadi obyek wisata berkonsep edukasi.
Selain itu, berbagai dokumen-dokumen lama yang mengungkap sejarah bekas pabrik itu akan dipajang.
“Semua lokasi sangat Instagramable. Tapi paling menarik itu jika malam, banyak yang foto di bawah cerobong,” kata Wahyono dikutip dari Liputan6.com.
Polemik dengan Mangkunegaran

©2021 Liputan6.com
Pengubahan bekas pabrik gula menjadi tempat wisata itu menimbulkan polemik dengan pihak Mangkunegaran. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX merasa kecewa dan marah besar karena tidak pernah dilibatkan dalam proyek revitalisasi atas bangunan itu.
Oleh karena itulah, ia kemudian menggugat BUMN dan PTPN IX ke pengadilan karena menurutnya, berdasarkan PP 3 dan 4 tahun 1946, penguasaan Pabrik Gula Colomadu hanya pada usaha, bukan pada lahan dan bangunan.
“Tidak ada pelepasan tanah tapi tiba-tiba sertifikat itu sudah beralih ke PTPN IX pada tahun 2014,” kata Mangkunegara IX, Kamis (14/1).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya