Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak Dilarang Pemerintah, Ini Kata Epidemiolog UGM Tentang Mudik Lebaran 2021

Tak Dilarang Pemerintah, Ini Kata Epidemiolog UGM Tentang Mudik Lebaran 2021 Ilustrasi Mudik. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Di tahun 2021 ini, pemerintah sudah mengumumkan bahwa mudik lebaran tidak dilarang. Padahal, potensi penularan virus Corona masih dimungkinkan hingga beberapa waktu ke depan.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, menilai ada beberapa skenario yang mungkin jadi pertimbangan pemerintah untuk tidak melakukan pelarangan mudik di tengah pandemi.

“Mungkin mereka beranggapan coverage imunisasi sudah cukup bagus dan itu membuat situasinya akan lebih mudah dikendalikan,” kata Riris mengutip dari Ugm.ac.id pada Rabu (17/3).

Hanya saja menurutnya, yang menjadi soal bukanlah perlindungan dari adanya imunisasi yang bagus, tapi bila para pemudik tidak menerapkan protokol kesehatan, penularan COVID-19 nantinya tetap menjadi banyak sama halnya seperti sebelum vaksin. Berikut selengkapnya:

Potensi Penularan Selama Mudik Lebaran

011 hikmah wilda amalia

©2015 Merdeka.com

Menurut Riris, pilihan moda transportasi bisa menjadi faktor tingginya transmisi virus ke daerah-daerah saat libur Lebaran nanti. Oleh karena itulah pemerintah mencoba memfasilitasi tempat-tempat transportasi publik dengan GeNose.

Menurut Riris, sebenarnya transportasi publik jauh lebih aman. Yang menjadi masalah adalah saat para pemudik melakukan perjalanan bersama seperti sewa mobil bareng. Kondisi inilah yang bisa menjadi awal transmisi virus ke daerah-daerah karena pengawasannya yang tidak begitu ketat.

“Beberapa skenario bisa terjadi. Tergantung nanti bagaimana situasinya. Itu kan sangat cair, banyak variabel yang berperan di situ,” kata Riris.

Pengaruh Vaksinasi

menhub tinjau vaksinasi petugas transportasi di stasiun gambir

©BKIP Kemenhub

Riris mengatakan, dengan adanya vaksinasi sebenarnya bisa menimbulkan sikap optimisme atau justru sebaliknya. Hal ini dikarenakan dengan divaksin, seseorang dengan mudah bersikap abai terhadap protokol kesehatan karena merasa sudah aman.

Namun dengan adanya vaksinasi, bisa saja tiap daerah mengeluarkan kebijakan yaitu memastikan mereka yang datang sudah memiliki surat sertifikat vaksin. Walaupun bukan berarti dengan adanya kebijakan ini risiko penularan hilang sama sekali.

“Surat vaksin, bebas COVID-19 dan lain-lain masih sangat diperlukan karena itu langkah meminimalkan risiko. Meski dengan upaya seperti ini tetap saja ada yang tertular, sama halnya meskipun kita sudah vaksinasi tetap saja bisa terinfeksi,” jelas Riris.

Jangan Mudik Dulu

Menurut Riris, periode mudik itu cukup lama mulai dari perjalanan hingga durasi waktu di kampung halaman. Oleh karena itu, ia berharap agar mudik, khususnya dalam level makro, sebaiknya ditunda dulu. Ia memperkirakan hingga Lebaran nanti masa pandemi belum berakhir dan coverage vaksinasi juga belum tinggi.

“Risiko penularan masih cukup besar. Meskipun kita sudah divaksin pun penularan masih bisa terjadi, dan yang lebih penting itu kan risiko paparan penyakit dan kematian agar bisa diturunkan,” kata Riris mengutip dari Ugm.ac.id.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP