Stok Minyak Goreng di Jogja Langka, Hanya Ada pada Jam-jam Tertentu
Merdeka.com - Saat ini, keberadaan minyak goreng masih sulit ditemui di pasaran. Hal ini juga dirasakan di Kota Yogyakarta di mana jumlahnya sangat terbatas.
Saking langkanya, persediaan minyak goreng hanya dapat dijumpai pada jam-jam tertentu, baik di ritel nasional maupun pada pedagang kelontong di pasar tradisional.
“Saat komoditas tersebut di-display, biasanya dalam satu jam langsung habis meskipun sudah ada pembatasan pembelian. Display dari toko biasanya pagi dan sore hari,” kata Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Riswanti, dikutip dari ANTARA pada Kamis (17/2).
Rismawati mengatakan, akibat tidak ada komoditas selama rentang waktu tertentu, maka konsumen akan menilai minyak goreng sulit didapat atau langka di pasaran. Berikut selengkapnya:
Stok Terbatas

©2022 Merdeka.com
Rismawati mengatakan, toko atau ritel melakukan pengaturan display karena stok yang dimiliki terbatas, sehingga untuk menjaga performa toko dalam melayani pelanggan perlu dilakukan pengaturan meskipun keuntungan yang diperoleh dari menjual minyak goreng tidak terlalu besar.
Selain itu ia juga menambahkan, untuk ritel dengan jaringan lokal, ketersediaan minyak goreng lebih terjaga dibanding dengan ritel yang memiliki jaringan nasional.
“Ketersediaan barang lebih baik karena ritel lokal ini langsung berhubungan dengan distributor dan distributor menaruh kepercayaan pada mereka sehingga stok lebih terjaga,” kata Rismawati.
Faktor Psikologis Konsumen

©Liputan6.com/Johan Tallo
Ia mengatakan bahwa pedagang di pasar tradisional sudah mulai memperoleh distribusi stok minyak goreng mulai awal pekan ini meskipun jumlahnya masih terbatas. Namun saat sudah diperjual belikan, stok minyak goreng itu sudah habis dalam waktu 10 menit.
Walau begitu, ia menyebut konsumsi masyarakat di Kota Yogyakarta untuk minyak goreng tidak mengalami kenaikan, sehingga kelangkaan komoditas tersebut juga dipengaruhi faktor psikologis konsumen yang membeli dalam jumlah banyak.
“Selain stok yang terbatas, konsumen juga berpikir untuk selalu memiliki stok minyak goreng di rumah karena merasa sulit memperolehnya. Jadi ketika berbelanja selalu disempatkan membeli minyak goreng meskipun stok di rumah masih ada,” kata Rismawati dikutip dari ANTARA.
Faktor Penurunan Produksi

Tira Santia ©2022 Liputan6.com
Rismawati menambahkan, penurunan stok minyak goreng juga dipengaruhi berkurangnya produksi oleh produsen. Hal ini dikarenakan produsen juga harus berhitung dengan subsidi yang akan diberikan pemerintah agar bisa memproduksi minyak yang kemudian bisa dijual dengan harga sama, yaitu Rp14 ribu per liter untuk kemasan premium.
Harapannya, produsen dapat memenuhi permintaan pemerintah untuk memproduksi minyak dalam jumlah cukup, termasuk memproduksi kemasan sederhana. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan komoditas tersebut bisa diperoleh dengan mudah oleh masyarakat.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya