Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Simpan Cerita Kelam, Begini Kisah Penumpasan Petrus di Yogyakarta

Simpan Cerita Kelam, Begini Kisah Penumpasan Petrus di Yogyakarta ilustrasi Petrus. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada tahun 1980-an, angka kejahatan di Indonesia begitu tinggi, khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Tengah. Pemerintah Orde Baru pada saat itu melakukan operasi rahasia agar kasus kejahatan diturunkan. Mereka menangkap dan membunuh para preman, perampok, gali, atau orang-orang yang dianggap mengganggu ketentraman masyarakat.

Sempat mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto karena terbukti efektif dalam menurunkan kasus kejahatan, operasi ini menciptakan kontroversi karena banyak pelaku yang mati ditembak. Pada tahun 1983 misalnya, ada 532 orang tewas karena tembakan.

“Tindakan pembersihan ini dilakukan tanpa melalui proses hukum yang sah, sehingga tidak satupun eksekusi yang telah dilakukan berdasarkan keputusan pengadilan,” kata Yosep Adi Prasetya, Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat, dikutip dari Liputan6.com pada 24 Juli 2012.

Karena penembaknya belum diketahui, operasi ini dikenal dengan istilah “petrus” (penembak misterius). Salah satu peristiwa petrus ini terjadi di Yogyakarta.

Peristiwa Petrus di Yogyakarta

011 ovan zaihnudin

©2016 Merdeka.com

Dilansir dari laman Historia, peristiwa petrus di Yogyakarta bermula saat Komandan Kodim Yogyakarta, Letkol. M. Hasbi melancarkan operasi pemberantasan kejahatan (OPK) yang awalnya diklaim hanya untuk pendataan para pelaku kriminal. Namun ternyata pendataan itu berubah menjadi proses penangkapan secara semena-mena.

Para waktu itu, orang-orang yang dianggap sebagai gali (gabungan anak liar) maupun preman dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan tewas. Rata-rata dari mereka mengalami luka tembak mematikan di bagian kepala dan beberapa di bagian leher. Bahkan, beberapa dari mereka adalah tokoh gali yang terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Kisah Pembunuhan Samudi Blekok

ilustrasi penembakan senjata api

Liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Salah satu preman legendaris Jogja yang turut jadi korban petrus adalah Samudi Blekok. Pada masa jayanya, Blekok termasuk orang kuat di mana dia memiliki tubuh yang kuat, kekar, dan berkulit hitam. Di pinggangnya, selalu terselip senjata kebanggaannya yaitu sebuah trisula.

Tak hanya itu, Blekok juga pintar main gitar dan sering menghibur para bule dengan lagu-lagu Rolling Stone. Dilansir dari Museum.or.id, orang-orang bule yang kenal dengan Blekok kemudian menjulukinya “Black Sam”.

Saat operasi petrus di Jogja memanas tahun 1983, Blekok meninggalkan kota. Setelah menganggap situasi sudah aman, ia kembali ke kotanya tercinta. Namun naas, ia tak luput dari korban petrus. Blekok ditemukan mati tergeletak dengan muka rusak di kawasan Kotagede.

Penculikan dalam Operasi Petrus

001 ramadhian fadillah

©2016 Merdeka.com

Salah satu cara yang digunakan dalam operasi petrus adalah penculikan. Para gali, preman, atau pelaku kejahatan itu menjadi korban penghilangan orang secara paksa dengan cara dijemput orang tak dikenal dari rumah, dijebak oleh teman sendiri, dipanggil polisi ke kantor, ada pula yang dijemput dari dalam penjara bagi mereka yang sedang mendekam di tahanan.

Namun tak lama berselang, muncul berbagai berita di koran yang menampilkan penemuan mayat orang-orang bertato dengan dada tertembus peluru. Akibat tekanan ini, banyak preman yang akhirnya memilih menyerahkan diri pada aparat. Letkol Hasby dalam sebuah pertemuan mencatat jumlah preman yang telah melaporkan diri hingga Mei 1983 adalah 441 orang.

Pelaku yang Terlibat

011 hikmah wilda amalia

©2015 Merdeka.com

Yosep Adi Prasetyo, menyebutkan, berdasarkan hasil penyelidikan oleh tim yang dibentuknya, peristiwa petrus melibatkan TNI, polisi, garnisun, dan pejabat sipil. Sejauh hasil penyelidikannya, pihak yang menjadi korban petrus adalah mereka yang dianggap memiliki masalah dengan hukum atau dianggap meresahkan masyarakat seperti copet, preman, residivis, ataupun orang-orang yang memiliki ciri memiliki tato di tubuhnya.

“Bahkan ada orang yang tidak bersentuhan dengan hukum juga menjadi korban salah sasaran, seperti petani, penjaga masjid, PNS, karena memiliki nama yang sama dengan daftar target operasi. Daftar itu semua dipegang oleh militer,” kata Yosep dikutip dari Liputan6.com.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP