Sebabkan Kemiskinan hingga Wabah, Ini 5 Fakta Krisis Ekonomi di Banyumas 1930-1935
Merdeka.com - Krisis Ekonomi Global yang lebih dikenal dengan istilah “The Great Depression” yang terjadi pada tahun 1930-an membawa dampak besar bagi banyak penduduk dunia. Dampaknya bahkan terasa hingga pelosok desa di wilayah Banyumas.
Pada masa ini, kemiskinan terjadi di mana-mana. Para pengemis berkeliaran. Mata pencaharian yang saat itu menjadi andalan masyarakat, seperti di pabrik-pabrik, di perkebunan, dan di tempat-tempat lainnya, seketika lenyap.
Mereka akhirnya kekurangan gizi hingga muncullah wabah penyakit. Berbagai penyakit yang muncul antara lain guduk, koreng, patek, dan borok. Belum lagi wabah seperti influenza dan malaria yang menyebabkan korban meninggal berjatuhan di mana-mana.
Lalu mengapa hal itu bisa terjadi? Dan bagaimana jalan keluarnya? Berikut selengkapnya:
Daerah Terisolasi

©banjoemas.com
Di zaman Belanda, Banyumas merupakan daerah terisolasi. Wilayahnya diapit oleh pegunungan yang membentang baik di utara maupun selatan. Walau begitu, kondisi tanahnya yang terdiri dari lapisan vulkanis muda yang membentang luas membuat tempat itu sangat cocok untuk budidaya tanaman padi. Maka tak heran sejak zaman raja-raja wilayah ini selalu mendapat perhatian walau letaknya yang terpencil.
Karena letaknya yang terisolir, masyarakat Banyumas waktu itu digambarkan sebagai masyarakat yang masih memiliki keunikan budaya lokal yang khas dan belum terpengaruh budaya luar. Namun sejak tahun 1830, wilayah itu menjadi daerah kekuasaan kolonial. Berbagai kebijakan dibuat oleh pemerintah kolonial untuk meningkatkan produksi hasil alam Banyumas.
Kekayaan Alam Banyumas

©banjoemas.com
Sejak era kolonial Belanda, mata pencaharian penduduk di sektor pertanian seluruhnya diarahkan pada usaha-usaha peningkatan produksi pertanian melalui swasembada pangan. Dalam sebuah jurnal berjudul “Krisis Ekonomi di Banyumas 1930-1935 Sampai Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Banyumas ke Purwokerto Tahun 1937”, Diska Meizi Arinda menulis bahwa saat itu tanaman perkebunan yang dikembangkan masyarakat Banyumas antara lain cengkeh, kelapa, kopi, teh, tebu, dan rosela.
Ada pula usaha masyarakat pada bidang peternakan dengan jenis ternak besar, ternak kecil, dan unggas, dengan penekanan pada hasil daging dan telur. Selain itu, ada usaha perikanan dengan produksi berbagai jenis ikan kultur, ikan liar, udang, dan alat perikanan dengan bercorak pada perikanan air tawar.
Pada waktu itu, sebagian masyarakat Banyumas juga bergerak di sektor industri seperti perusahaan makanan, minuman, pakaian jadi, alat-alat rumah tangga, hasil barang dari kayu, dan hasil galian bukan logam.
Penyebab Krisis Ekonomi di Banyumas

©banjoemas.com
Krisis ekonomi yang terjadi di Banyumas sebenarnya sudah dimulai sejak krisis pabrik gula di Hindia Belanda pada tahun 1918. Belum lagi ada kebijakan kenaikan pajak pada tahun 1921 yang membuat kondisi ekonomi rakyat dan keadaan sosial semakin buruk. Keadaan ini mencapai puncaknya pada saat krisis ekonomi global yang dimulai pada tahun 1929.
Disebabkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi akibat perang, terutama pada hubungan-hubungan sosial politik antara Eropa dan Asia, krisis ini membawa dampak di Hindia Belanda di mana negara-negara tujuan ekspor tak mau lagi menerima produksi.
Krisis ini membawa dampak di Hindia Belanda yang menyandarkan devisa negaranya pada ekspor bahan-bahan mentah. Krisis inipun membawa dampak pada penutupan berbagai lapangan industri. Akibatnya banyak buruh-buruh yang diberhentikan secara besar-besaran.
Kemelaratan di Banyumas

©banjoemas.com
Pada tahun 1930-1935, kemiskinan terjadi hampir di seluruh wilayah Karasidenan Banyumas. Di daerah perkotaan seperti Purwokerto, Banjarnegara, Cilacap, dan Purbalingga, pengemis laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak berkeliaran terutama pada hari Minggu. Sumber mata pencaharian di pabrik-pabrik dan perkebunan lenyap. Masyarakat Banyumas jatuh miskin bersama-sama.
Belum lagi berbagai penyakit bermunculan. Korban meninggal berjatuhan di mana-mana. Bongkrek menjadi makanan favorit tetapi tidak jarang membuat orang keracunan sampai meninggal.
Setelah masa krisis perlahan-lahan berlalu muncul wacana untuk memindahkan ibu kota karasidenan dari Banyumas ke Purwokerto. Apalagi letak Purwokerto dinilai strategis karena dilalui oleh jalur kereta api antar kota dan letaknya yang tidak terlalu terisolir.
Perpindahan Ibu Kota dari Banyumas ke Purwokerto

©banjoemas.com
Modernisasi Kota Purwokerto yang ditandai dengan pengoperasian jalur kereta api di sepanjang Lembah Sungai Serayu membawa perubahan dahsyat bagi wilayah Banyumas. Karena letaknya lebih strategis, kantor-kantor cabang perdagangan maupun perusahaan swasta lebih memilih berkedudukan di Purwokerto ketimbang Banyumas. Maka dari itu muncul wacana pemindahan ibu kota Karasidenan Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto.
Pada awalnya usulan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun pada akhirnya semua pihak bisa menyepakati usulan itu. Sejak saat itu, Purwokerto menjadi kota yang ramai, tidak hanya sebagai pusat perekonomian, namun juga pusat pemerintahan hingga kini. Sementara itu pusat kota Banyumas hanya menjadi distrik.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya