Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Permintaan Bibit Kelinci di Magelang Meningkat saat Pandemi, Ini Penyebabnya

Permintaan Bibit Kelinci di Magelang Meningkat saat Pandemi, Ini Penyebabnya Ilustrasi kelinci. ©Shuttersstock.com/Volodymyr Burdiak

Merdeka.com - Di masa pandemi COVID-19, kehidupan masyarakat jadi serba sulit. Terlebih banyak dari mereka yang diputus hubungan kerja hingga akhirnya jadi pengangguran.

Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan pasca kehilangan pekerjaan, beberapa dari mereka mencoba peruntungan di ranah lain. Salah satu dengan beternak kelinci. Hal inilah yang terjadi di Magelang.

Saat masa pandemi merebak, permintaan bibit kelinci justru mengalami peningkatan. Damar Triyanto, seorang peternak kelinci asal Dusun Citran, Desa Parimono, Mungkid, Magelang, mengatakan jika per minggunya permintaan bibit kelinci di tempatnya bisa mencapai 100 ekor.

“Di masa pandemi tidak mengurangi minat untuk ternak kelinci, bahkan semakin banyak. Mungkin mereka yang terkena PHK ingin mencoba ternak kelinci. Dari pada menganggur ternak kelinci memang menjanjikan,” ungkap Damar dikutip dari ANTARA pada Selasa (9/3).

Harga Kelinci New Zealand

004 tantri setyorini

©Pexels

Damar mengatakan, pembeli yang memesan kelinci hasil ternaknya tidak hanya berasal dari Magelang, tetapi juga dari luar daerah bahkan luar provinsi. Di peternakannya, 95 persen kelinci merupakan jenis New Zealand white.

Untuk indukannya, kelinci asli keturunan New Zealand itu dihargai Rp3 juta per pasang. Sedangkan anakannya yang masih berusia 78 hari dihargai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per pasang.

Sementara itu untuk tipe kedua B cross atau hasil persilangan, harga indukan mencapai Rp800 ribu hingga Rp900 ribu per pasang. Sementara anakannya sekitar Rp350 ribu per pasang.

Sedangkan untuk tipe lokal New Zealand harganya lebih murah. Sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per pasang, sedang anakannya sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per pasang.

Lebih Mudah

ilustrasi kelinci angora

©ritemail.blogspot.com.au

Menurut Damar, di zaman sekarang beternak kelinci sebenarnya lebih mudah. Hal ini dikarenakan sudah tersedia pakan berupa pelet, sehingga tak perlu mencari makan berupa rumput.

“Sekarang di pasar banyak tersedia pelet untuk kelinci yang kebutuhan proteinnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan protein kelinci, yaitu sekitar 17-18 persen protein nabati bukan hewani,” kata Damar dikutip dari ANTARA.

Stok Daging Kelinci

003 tantri setyorini

©2014 Merdeka.com/www.fanpop.com

Sementara untuk daging kelinci di masa pandemi, Damar mengatakan bahwa stok masih melimpah. Hal ini dikarenakan daya serap cenderung berkurang akibat kondisi warung yang sepi, bahkan beberapa warung dengan menu daging kelinci memilih tutup. Selain beternak kelinci, Damar sendiri juga membuka warung sate kelinci di Jalan Palbapang-Borobudur.

“Sebelum pandemi kami sempat kesulitan mencari daging kelinci di Magelang, maka kami harus mendatangkan daging dari Ngawi atau Bogor. Tetapi saat ini kebutuhan daging kelinci datang sendiri, karena banyak yang menawarkan ke warung kami,” kata Damar dikutip dari ANTARA pada Selasa (9/3).

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP