Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pakar UGM Ungkap Sebab Minyak Goreng Langka, Ada Banyak Faktor

Pakar UGM Ungkap Sebab Minyak Goreng Langka, Ada Banyak Faktor Antusias Warga Serbu Operasi Minyak Goreng Murah. ©2022 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Dari awal tahun hingga kini, masalah minyak goreng tidak kelar-kelar. Bahkan seiring waktu permasalahannya semakin pelik dan rumit. Banyak orang menduga-duga penyebab dari semua ini. Sejumlah pihak menjadi sasarah kemarahan, seperti Menteri Perdagangan, perusahaan minyak goreng, pemasok, hingga para penjual di pasar-pasar.

Menurut peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pustek) UGM Dr. Hempri Suyatna, persoalan kelangkaan minyak goreng disebabkan oleh banyak faktor mulai dari meningkatnya harga CPO, gangguan distribusi, hingga aksi penimbunan minyak goreng.

“Ada banyak faktor. Saya kira faktor pemicunya sudah muncul sejak tahun lalu, tepatnya November 2021. Karena kenaikan harga CPO (Crude Palm Oil) di pasar internasional. Naiknya harga CPO inilah yang kemudian memicu banyak pedagang minyak goreng menjual produknya ke luar negeri daripada ke dalam negeri,” kata Hempri, mengutip dari Ugm.ac.id pada Rabu (16/3). Berikut selengkapnya:

Mencari Keuntungan di Tengah Kesulitan

produksi minyak goreng curah di cipete

©2022 Liputan6.com/Herman Zakharia

Selain banyak produk yang dijual ke luar negeri, kelangkaan diperparah dengan banyaknya pedagang yang bermain dan mencari keuntungan di balik kelangkaan minyak goreng ini. Hal ini membuat proses distribusi tidak berjalan dengan lancar.

“Dalam banyak kasus sering kita temukan terjadi banyak penimbunan minyak goreng sehingga mengakibatkan proses distribusi menjadi tidak lancar,” kata Hempri.

Imbauan pada Pemerintah

sidak minyak goreng di banyuwangi

©2022 Istimewa

Menyikapi lonjakan harga minyak goreng itu, Hempri mengimbau pemerintah lebih gencar melakukan operasi pasar serta melakukan berbagai langkah inovatif, misalnya dengan memotong jalur distributor sehingga bisa menekan harga minyak.

“Selain itu juga melakukan pengawasan terhadap para pelaku usaha termasuk konsumen. Jangan sampai penimbunan terjadi juga di level konsumen,” kata Hempri.

Ia menambahkan, proses pengawasan distribusi juga perlu diperkuat kembali, termasuk soal ekspor CPO hingga distribusi minyak goreng di dalam negeri. Hal ini penting dilakukan mengingat Indonesia termasuk negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP