Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengunjungi Kampung Pecel di Klaten, Sentra Makanan Tradisional Harganya Murah Meriah

Mengunjungi Kampung Pecel di Klaten, Sentra Makanan Tradisional Harganya Murah Meriah kampoeng pecel. ©2021 Liputan6.com

Merdeka.com - Di Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, ada sebuah kampung yang unik, namanya Kampoeng Pecel. Ketika tiba di kampung itu, suasana pedesaan begitu terasa. Di sana, wisatawan yang berkunjung bisa menikmati makanan pecel pada sebuah gazebo dengan suasana adem karena rindangnya pohon bambu dan jati.

Dilansir dari Liputan6.com, Kampoeng Pecel merupakan salah satu obyek wisata kuliner yang berada di kawasan Lereng Katresnan, Klaten. Sesuai namanya, menu yang disajikan di kampung itu berupa sayuran pecel yang dikombinasikan dengan nasi, gendar, tiwul, hewek yang dilengkapi dengan peyek kacang.

Selain makanan, di sana tersaji hidangan minuman tradisional seperti dawet cendol lidah buaya. Harga menu makanan yang ditawarkan di kampung itu juga murah meriah, yaitu sekitar Rp5.000 hingga Rp20.000.

Pendirian Kampoeng Pecel

kampoeng pecel

©2021 Liputan6.com

Ketua pengelola wisata kawasan Lereng Katresnan, Teguh, mengatakan Kampoeng Pecel mulai dibuka pada September 2020. Pendirian obyek wisata kuliner itu bermula dari budi daya sayuran dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang dilakukan kelompok tani setempat. Sebelum mendirikan tempat wisata itu, Teguh mengaku sempat melakukan studi banding di daerah Nglipar, Gunung Kidul.

“Di sata kami melihat cara menanam lidah buaya dan pengolahannya. Kemudian kami kembangkan menjadi cendol dawet. Kemudian kami suatu kali pergi ke kuliner Rumah Tiwul di Sukoharjo. Jadi konsepnya satu rumah dengan menu aneka tiwul. Dari sanalah kami memiliki keyakinan bisa mengembangkan ke hal yang sama,” kata Teguh dikutip dari Liputan6.com.

Hasil Gotong Royong

kampoeng pecel

©2021 Liputan6.com

Dalam mendirikan Kampoeng Pecel, Teguh bekerja sama dengan BUMDes Nerang Jaya, pengurus desa wisata, serta warga padukuhan setempat. Menu yang disajikan di Kampoeng Pecel berasal dari sayur mayur yang diperoleh dari tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah warga.

Sementara lahan mangkrak di rumah warga disulap menjadi kawasan wisata kuliner. Untuk membangun tempat wisata itu, para warga melakukan gotong royong untuk membersihkan dan menata pekarangan itu.

“Awalnya tidak terawat dan banyak rerumputan. Kemudian kami tata dan kami manfaatkan untuk pembuatan Kampoeng Pecel,” kata Teguh.

Kembangkan Konsep Investasi

Dalam mengumpulkan modal guna membangun kawasan wisata itu, para warga di padukuhan setempat melakukan swadaya dengan menyisihkan uang pribadi. Teguh mengatakan permodalan itu dilakukan dengan konsep investasi dengan uang Rp100.000-Rp500.000 per keluarga.

“Saat itu hanya terkumpul sedikit sekitar Rp3,6 juta. Kemudian kami membuat warung, lincak, jembatan, dan menambah sarana prasarananya,” ungkap Teguh.

Harapan ke Depan

Setelah dibuka untuk umum, kawasan wisata kuliner itu makin dikenal. Dalam operasionalnya, tempat wisata itu hanya buka pada Hari Sabtu dan Minggu. Warga dari berbagai daerah mulai berdatangan terutama para penggemar sepeda santai.

Rata-rata, jumlah pengunjung Kampoeng Pecel berkisar 400 orang per hari. Puncaknya, tempat wisata itu pernah dikunjungi hingga 700 orang per hari. Walau begitu, Teguh mengatakan pengembangan kampung itu akan terus dilakukan. Bahkan warga setempat berencana mengembangkan kampung itu menjadi kawasan argowisata.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP