Memprihatinkan, Ini 5 Potret Kondisi Jalur Evakuasi di Lereng Merapi
Merdeka.com - Sejak Kamis (5/11) status Gunung Merapi dinaikan menjadi siaga setelah sebelumnya Waspada Level II. Karena kondisi tersebut warga yang tinggal dalam radius 5 km dari puncak Gunung Merapi mulai diungsikan.
Untuk mengakomodir, posko-posko pengungsian pun didirikan. Tak lupa, penempatan ruang pada posko itu memperhatikan protokol kesehatan agar Virus Corona tidak menyebar di tempat pengungsian.
Sementara itu, warga yang masih tinggal di rumah sudah diimbau untuk mempersiapkan diri. Barang-barang berharga seperti surat-surat administratif sudah dijadikan satu dalam sebuah tas agar ketika Merapi meletus secara mendadak, berkas-berkas itu mudah untuk diselamatkan.
Hal lain yang menjadi perhatian, jalur-jalur yang nantinya digunakan untuk evakuasi kondisinya justru memprihatinkan. Khususnya jalur evakuasi yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Begini kondisi jalur-jalur evakuasi tersebut:
Kondisinya Memprihatinkan

©2020 liputan6.com
Dilansir dari Liputan6.com pada Senin (9/11), dalam sebuah video tampak kondisi jalan yang nantinya akan digunakan untuk proses evakuasi warga kondisinya sangat memprihatinkan. Selain menjadi jalur evakuasi, jalan-jalan tersebut juga menjadi roda ekonomi masyarakat. Karena hal ini warga meminta agar pemerintah setempat turun tangan.
Sering Dilalui Truk

©2020 liputan6.com
Dalam video itu tampak banyak bagian jalan yang berlubang dan berbatu. Bahkan di beberapa titik jalanan itu dipasang bendera sebagai pengingat bagi pengendara yang melewati tempat tersebut. Jalanan itu pula sering dilalui truk penambang pasir Merapi.
Pengendara Harus Berhati-hati

©2020 liputan6.com
Karena rusaknya jalan tersebut, para pengendara yang melewati tempat itu harus berhati-hati. Mereka disarankan tidak memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Pengungsi Terus Bertambah

©2020 liputan6.com
Sementara itu hingga Rabu (11/11), pengungsi erupsi Merapi terus bertambah menjadi 203 orang. Mereka ditampung di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan.
Para pengungsi yang baru datang sebenarnya bukanlah kelompok rentan yang wajib mengungsi. Namun mereka ikut mengungsi untuk menemani kakek/neneknya, anaknya, atau penduduk dewasa lain yang merasa khawatir karena punya trauma akan erupsi 2010.
Butuh Masker Medis

©2020 liputan6.com
Walaupun kebutuhan logistik terpenuhi, para pengungsi di Glagaharjo butuh lebih banyak masker medis karena banyak lansia yang kesulitan untuk mencuci masker kain. Setiap tiga jam sekali, masker kain harus dicuci dan hal inilah yang merepotkan para lansia itu. Oleh karena itu, penggunaan masker medis yang sekali pakai itu justru dinilai lebih efektif pada para lansia.
"Masker kain paling lama tiga jam harus ganti, kemudian harus sering dicuci itu menurut kami sangat merepotkan pengungsi terutama simbah-simbah makanya harapan kami setiap pagi harus disediakan masker medis," kata Camat Cangkringan, Pramono, dikutip dari ANTARA pada Rabu (11/11).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya