Makin Langka, Pabrik Gula di Kudus Masih Lestarikan Tradisi "Pernikahan" Unik Ini
Merdeka.com - Pesta pernikahan pada umumnya dirayakan terhadap sepasang kekasih manusia. Namun pesta pernikahan di Kudus ini beda dari yang lain. Pesta yang diselenggarakan di Pabrik Gula Rendeng, Kudus itu dilakukan untuk merayakan pernikahan sepasang tebu!
Proses temanten tebu yang berlangsung pada hari Selasa (10/5) itu digelar layaknya proses pernikahan manusia. Bahkan kedua tebu itu diberi nama, tebu laki-laki bernama Setya Raharjo berasal dari kebun tebu Gribig, Kecamatan Gebog, dan tebu perempuan bernama Roro Gendis Ayu yang berasal dari kebun Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo.
Sebelum menjalankan prosesi pernikahan, kedua “pasangan pengantin” diarak terlebih dahulu oleh 23 orang dan diiringi oleh kesenian barongan sebelum kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggilingan bersama puluhan batang tebu lainnya sebagai pengiring.Berikut keseruannya:
Perayaan Sakral

©YouTube/Beta TV
Meskipun tidak semeriah pada tempo dulu, namun prosesi “pernikahan” itu masih terasa sakral. Pada era tahun 2000-an, proses temanten tebu dimeriahkan oleh aneka tontonan anak, tapi belakangan ditiadakan karena adanya masukan dari berbagai pihak berhubungan kondisi keamanan wilayah sekitar yang belum kondusif.
“Masih adanya tradisi temanten tebu di era seperti sekarang ini menjadi penanda bahwa masih banyak pihak yang peduli untuk melestarikan budaya karena tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu,” kata Wiyono, salah seorang anggota panitia acara itu dikutip dari ANTARA.
Bersiap Tugas Besar

©YouTube/Beta TV
Dilansir dari ANTARA, pemilihan kedua “mempelai” tebu itu dilakukan dengan menetapkan berbagai kriteria. Di antaranya tebu yang dipilih memiliki ketinggian 4 meter dengan usia yang sudah cukup untuk digiling.
Wiyono mengatakan, tradisi kuno tersebut merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan setiap tahun sebagai tanda bahwa Pabrik Gula Rendeng sudah siap melaksanakan pekerjaan besar mereka yaitu giling tebu. Giling tebu sendiri rencananya akan dimulai pada 15 Mei dan berlangsung hingga tiga bulan mendatang.
“Kami tentu sangat berharap musim giling tahun ini benar-benar berhasil dan memenuhi target,” kata Wiyono.
Spirit Kaum Pekerja

©YouTube/Beta TV
Wiyono mengakui, tradisi temanten tebu ini tidak bisa dihilangkan begitu saja karena sudah menjadi spirit tersendiri bagi para pekerja. Mereka meyakini ritual itu bisa memberikan motivasi serta ketenangan dalam bertugas, karena ritual itu diawali dengan kegiatan keagamaan yang dipandu dengan adat Jawa dalam memohon doa kepada Tuhan.
Pada musim giling tahun ini, Pabrik Gula Rendeng menargetkan melakukan penggilingan sebanyak 270.000 ton tebu. Bahan baku tebu melingkupi area kebun tebu seluas 4.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Kudus, Jepara, Pati, Blora, dan Rembang. Dalam seharinya, pabrik gula itu mampu menggiling sebanyak 2.500 ton tebu atau 425 truk.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya