Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keren, Para Pembatik Tunarungu di Solo Hasilkan Mahakarya Menawan

Keren, Para Pembatik Tunarungu di Solo Hasilkan Mahakarya Menawan Pembatik Tunarungu ©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Merdeka.com - Beraneka macam motif batik menawan berhasil dibuat para penyandang disabilitas ini. Batik Toeli menjadi rumah para tunarungu berkarya. Salah satu karyawannya bernama Dyan Priamdyka yang bergabung dengan Batik Toeli selang satu bulan berdiri. Ia mampu membatik dengan beragam motif.

Memiliki keterbatasan bukanlah menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Merekalah para penderita tunarungu yang menembus keterbatasan. Melalui batik, penyandang disabilitas ini dengan teliti menorehkan lilin pada kain. Batik Toeli berkembang di sentra Kampung Batik Laweyan, Solo.

Keikutsertaanya dalam produksi batik membuatnya mempunyai skill begitu bermanfaat. Terlebih lagi, tanpa rasa minder keterbatasan ia dan rekan sesama penyandang tunarungu tak lagi menganggapnya menjadi suatu hal yang diperdebatkan.

pembatik tunarungu

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Nama Batik Toeli diangkat dari keterbatasan para penyandang disabilitas pendengaran. Yang memiliki nama lain Tuli dan dikreasikan melalui ejaan lama. Para pekerjanya mulai berangkat dari ketidaktahuan akan batik. Dengan adanya pelatihan rutin, karya-karya indah bermunculan. Terlebih mereka dapat mengangkat perekonomian di tengah pandemi.

Dijembatani oleh Muhammad Taufan Wicaksono, dapur produksi Batik Toeli berjalan. Taufan menjadi perantara yang bisa berbahasa isyarat kepada penyandang tunarungu. Melalui kode isyarat tangan dan tubuh, para penyandang disabilitas mengkoordinasikan aneka tema batik, motif, ukuran, hingga warna.

pembatik tunarungu

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Pemilik Batik Toeli sendiri ialah Alpha Febela Priyatmono yang sebelumnya mengembangkan batik Mahkota Laweyan. Situasi pandemi membuatnya berinovasi untuk mendirikan Batik Toeli, mengingat ada karyawannya yang menyandang tunarungu. Tepatnya pada Bulan Maret 2020 Batik Toeli dirintis. Kini batik Toeli memiliki 3 orang penyandang tunarungu yang sepenuhnya memproduksi Batik Toeli.

Sudah banyak pembatik yang ada di Kampung Batik Laweyan. Namun pemberdayaan penyandang disabilitas dirasa perlu untuk membuktikan memiliki keterbatasan bukanlah alasan untuk menjadi seorang pembatik.

pembatik tunarungu

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Selama pandemi, Batik Toeli juga memproduksi kain batik bertemakan lembaran surat pendek dalam Al-Qur'an. Jenis produk ini menjadi populer setelah kebutuhan masker batik. Dengan teliti mata mereka jeli memelototi setiap pola. Bak membuat kaligafi, mereka mahir menuliskan aksara arab ini dalam wujud batik.

Di Batik Toeli mereka berkarya, tanpa ada batasan meskipun mereka punya keterbatasan. Melalui batik, mereka terberdayakan sehingga bisa hidup mandiri. Melalui membatik, mereka berhasil membuat berbagai karya seni yang telah diakui dunia akan keberadanya.

pembatik tunarungu

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Mereka juga diajarkan untuk membuat pola dengan pensil pada selembar kain. Sesuai tema dan pesanan, imajinasi mereka turut diasah untuk menghasilkan desain yang beragam mengikuti tren pasaran.

Perlahan tapi pasti, pola yang tersedia mulai dilapisi dengan larutan lilin. Mereka sering mendapat arahan saat proses belajar. Dengan motif yang sudah siap, tangan mereka dengan cekatan menorehkan canthing mengikuti alur pada kain. Kain mori, shantung, dan sutra menjadi bahan batik yang populer digunakan. (mdk/Ibr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP