Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kenali Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai

Kenali Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Kenali Delirium. ©2020 Merdeka.com/freepik

Merdeka.com - Covid-19 tidak hanya menyerang fisik, namun juga mental. Bagaimana tidak, sejumlah masyarakat awam masih kerap mengucilkan penderita Covid-19 karena takut tertular. Si penderita yang menerima banyak pemberitaan soal Covid-19 bisa jadi merasa cemas secara berlebihan hingga mengalami delirium. Delirium sendiri adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Dua studi terbaru menunjukkan, delirium menjadi salah satu gejala awal infeksi baru Covid-19. Kesimpulan tersebut merupakan hasil penelitian ilmiah para peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC), Spanyol yang diterbitkan di Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy.

"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana orang tersebut merasa tidak berhubungan dengan kenyataan, seolah-olah mereka sedang bermimpi," kata peneliti UOC, Javier Correa, seperti dikutip dari eurekalert pada Senin (21/12).

Para peneliti UOC menemukan, bahwa sejumlah pasien Covid-19 mengalami Delirium saat mereka juga kehilangan indera perasa maupun penciuman dan merasakan sakit kepala beberapa hari sebelum gejala lebih berat muncul, yakni batuk dan kesulitan bernapas.

"Kita perlu waspada, terutama dalam situasi epidemiologi kayak sekarang, karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin merupakan indikasi infeksi Virus Corona," Javier menambahkan.

Covid-19 terhadap sistem saraf pusat atau otak.

kenali delirium

©2020 Merdeka.com/freepik

Seperti yang diketahui, Covid-19 bisa memengaruhi fungsi otak kemungkinan karena tiga penyebab, pertama, hipoksia atau defisiensi oksigen saraf serta radang jaringan otak akibat badai sitokin. Terakhir, virus Corona memiliki kemampuan untuk melintasi darah dan langsung menyerang otak.

Javier bersama rekannya yang juga seorang peneliti dari UOC Cognitive NeuroLab, Diego Redolar Ripoll, telah meninjau badan karya ilmiah mengenai efek dari Covic-19 dalam kaitannya dengan sistem saraf pusat atau otak.

Tinjauan tersebut menemukan bahwa meskipun hingga saat ini banyak penelitian mengenai Virus corona yang dilakukan sejak kasus pertama Pneumonia yang dilaporkan di China pada 31 Desember 2019 berfokus pada kerusakan yang ditimbulkan di paru-paru dan organ lain, seperti ginjal juga jantung, ada indikasi yang berkembang bahwa virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 pun mempengaruhi sistem saraf pusat yang menyebabkan sakit kepala hingga delirium.

Hipotesis utama yang menjelaskan bagaimana Virus corona baru memengaruhi otak merujuk pada tiga kemungkinan penyebab.

"Hipoksia atau defisiensi oksigen saraf, radang jaringan otak akibat badai sitokin, dan fakta bahwa virus memiliki kemampuan untuk melintasi darah. Dan, penghalang otak untuk langsung menyerang otak ," kata Javier.

Javier menekankan bahwa salah satu dari tiga faktor ini berpotensi menyebabkan delirium dan menjelaskan bahwa bukti kerusakan otak terkait hipoksia telah diamati dalam otopsi yang dilakukan pada pasien yang telah meninggal karena infeksi dan kemungkinan untuk mengisolasi Virus Corona dari jaringan otak.

Ciri-Ciri Delirium.

Sebanyak delapan kondisi disinyalir sebagai gejala delirium, gejala baru dari penyakit yang disebabkan Virus Corona SARS-CoV-2. Ciri-cirinya antara lain sebagai berikut.

1. Sulit fokus dan mudah teralihkan2. Suka melamun dan lambat bereaksi3. Daya ingat menurun4. Kesulitan berbicara5. Berhalusinasi6. Mudah tersinggung dan mood berubah mendadak7. Sering gelisah8. Kebiasaan tidur berubah

Reporter: Dwiyana Pangesthi

(mdk/snw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP