Dulunya Kawasan Kumuh, Desa di Jogja Ini Berhasil Disulap Jadi Kampung Wisata
Merdeka.com - Kampung Blunyahrejo yang berada di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta dulunya dikenal sebagai kampung yang kumuh. Tak hanya itu, kampung itu dulunya dikenal sebagai 'sarang' pergaulan bebas remaja, narkoba, dan banyak warganya yang terjerat kemiskinan.
Dari banyak stigma yang ada itulah, para warga Kampung Blunyahrejo berniat mengubah nasib dengan menggarap lahan kosong yang sebenarnya merupakan semak belukar menjadi sebuah lahan produktif.
Pada akhirnya, semak belukar itu berhasil disulap menjadi sebuah tempat kegiatan warga yang dinamakan “Kampung Markisa”. Di sana, para warga melakukan berbagai jenis kegiatan produktif seperti bertani dan beternak ikan. Wisatawan dari luar daerah juga bisa datang berkunjung dan menikmati suasana kampung wisata tersebut. Berikut selengkapnya:
Dulunya Kawasan Kumuh

©Kagama.id
Dilansir dari Kagama.id, Kampung Markisa merupakan hasil kreasi warga yang dilandasi semangat gotong royong. Nama Markisa sendiri merupakan akronim yang dihimpun dari tiga slogan yakni, “Mari kita bersatu, mari kita bersama, dan mari kita bisa”.
Dulunya, lahan seluas 4.375 meter persegi tempat Kampung Markisa berada merupakan tanah yang terbengkalai karena ditumbuhi semak belukar dan alang-alang. Tak hanya itu, tanah itu juga menjadi habitat dari ular-ular liar yang berbahaya.
Namun sejak Bulan Februari hingga Maret 2020, warga setempat berinisiatif membuka lahan itu secara swadaya. Mereka bermimpi agar kelak lahan itu akan menjadi sebuah destinasi wisata.
Dampak Pandemi COVID-19

©Kagama.id
Namun, pada saat perancangan desa pembangunan Kampung Markisa, pandemi COVID-19 merebak memasuki Bulan April 2020. Namun apapun yang terjadi, warga di sana tak pernah patah arang. Merekapun mengubah ide dari awalnya ingin membuat destinasi wisata menjadi memanfaatkan tempat tersebut untuk lahan pertanian.
Pada awalnya, mereka menanam Sawi Putih dan Sawi Dakota yang dinilai mudah dan cepat menghasilkan. Setelah melalui serangkaian trial dan eror, Sawi Dakota berhasil ditanam dan tumbuh dengan baik di Kampung Markisa.
Mendapat Perhatian

©Kagama.id
Seiring waktu, keberadaan Kampung Markisa mendapat perhatian dari berbagai pihak di antaranya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kagama Care bidang Ketahanan Pangan. Dari sanalah mereka mendapat berbagai jenis bibit tanaman pertanian di antaranya sawi, bayem, kangkung, cabai, terong, tomat, jagung, kacang panjang, pare, gambas, timun, ubi kayu, markisa, anggur, dan lain sebagainya.
“Pada awalnya kami ingin membentuk kampung hijau. Tetapi karena ada pandemi COVID-19 ide tersebut kemudian bergeser untuk pemenuhan ketahanan masyarakat yang kemudian diwujudkan dalam Kampung Markisa,” kata Ketua Rukun Kampung Blunyahrejo, Pratito, dikutip dari ANTARA.
Menjadi Pusat Kegiatan Warga

©Kagama.id
Pelan tapi pasti, Kampung Markisa semakin hijau dan warga yang berpartisipasi semakin banyak. Kini, tempat itu menjadi pusat kegiatan warga di Kampung Blunyahrejo dengan keunggulan hasil produk di sektor pertanian dan budidaya ikan pangan.
Selain itu di sana juga ada berbagai rumah makan yang disediakan untuk menyajikan kuliner unggulan di kampung itu. Karena keberhasilan itulah, kampung itu berani mengembangkan empat unit kegiatan di antaranya budidaya pertanian, latihan kontes burung, jemparingan, dan UMKM.
“Harapannya, citra kampung yang semula negatif karena banyak remaja yang putus sekolah, narkotika, atau klitih bisa semakin berkurang,” kata Pratito, dikutip dari ANTARA pada Rabu (23/12).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya