Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Heboh Isu Jakarta Tenggelam Tahun 2050, Pakar UGM: Bukan Hal Mustahil

Heboh Isu Jakarta Tenggelam Tahun 2050, Pakar UGM: Bukan Hal Mustahil Ilustrasi Jakarta. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Khoroshunova Olga

Merdeka.com - Isu tenggelamnya Kota Jakarta sudah merebak sudah lama. Inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa ibukota harus dipindahkan ke Kalimantan yang dinilai lebih aman dari bencana. Menurut Pakar tata ruang Universitas Gadjah Mada Bambang Hari Wibisono, prediksi bahwa Jakarta akan tenggelam di tahun 2050 bukanlah hal yang mustahil.

“Saya kira ini bukan sesuatu yang mustahil, tapi keniscayaan yang akan terjadi kalau Jakarta tidak cermat melakukan pengelolaan pembangunannya. Ini suatu peringatan yang harus kita perhatikan,” kata Bambang dikutip dari ANTARA pada Senin (7/6).

Menurut Bambang, prediksi semacam itu menjadi peringatan penting akan ancaman yang dihadapi Jakarta di masa mendatang. Oleh karena itu, perlu upaya serius yang perlu dilakukan saat ini.

Penataan Tata Ruang yang Ketat

suasana sepi di sekitar bundaran hi hingga mh thamrin

©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Isu penurunan tanah di Jakarta menjadi perhatian para ilmuwan sejak 10 hingga 15 tahun yang lalu. Bahkan, dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Fitch Solution Country Risk and Industry research menyebutkan bahwa tahun 2050 diperkirakan Jakarta akan tenggelam akibat sejumlah persoalan yang dihadapi saat ini.

Menanggapi hal ini, Hari menghendaki ada instrumen penataan ruang yang sangat ketat untuk pembangunan di ibukota.

“Tata ruang harusnya sudah mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Mana yang merupakan kawasan budidaya yang bisa dikembangkan dan mana pula yang memiliki fungsi lindung,” kata Bambang.

Pembangunan Jakarta Saat Ini

monas ditutup pada libur lebaran

©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Menurut Bambang, pembangunan Jakarta hari ini masih hanya mempertimbangkan soal kapasitas atau daya tampung, namun belum memikirkan tentang daya dukung.

Padahal di samping kapasitas lahan untuk menampung penduduk dalam jumlah tertentu, hal lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi bagi setiap penduduk untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Setiap orang tentunya membutuhkan air bersih, listrik, dan input lainnya. Sementara dari segi output mereka akan menghasilkan limbah yang harus diolah. Penting untuk diperhatikan apakah Jakarta memiliki kemampuan dalam hal Input dan Output ini,” jelas Bambang.

Belum Terlambat

dari balik jendela krl

©AFP PHOTO/GOH CHAI HIN

Menurut Bambang, jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta jiwa dengan luas wilayahnya yang hanya 661 kilometer persegi belum lagi pembangunan yang masih terus dilakukan sebenarnya memberi beban bagi lahan. Hal inilah yang membuat banyak ahli memprediksi tentang tergenangnya Jakarta.

Meski demikian, menurut Bambang belum terlambat untuk melakukan intervensi dan langkah nyata untuk menghentikan persoalan tersebut, dan menghentikan ancaman tenggelamnya Jakarta.

“Semakin lambat mengambil langkah effort-nya pasti akan semakin berat. Tapi tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu,” kata Bambang.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP