Dampak Kemarau Basah Bagi Petani Kudus, Bikin Gagal Panen
Merdeka.com - Pada Juni ini, sebagian besar wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Namun terkadang hujan masih saja turun pada waktu-waktu tertentu. Inilah yang biasa disebut dengan istilah “kemarau basah”. Adanya kemarau basah di Indonesia disebabkan oleh anomali suhu permukaan laut yang mempengaruhi pembentukan awan hujan.
Terjadinya cuaca yang tak menentu ini memberikan pengaruh signifikan terutama bagi para petani. Di Kudus, Jawa Tengah, sejumlah petani hortikultura gagal panen akibat serangan virus dan jamur sebagai dampak dari cuaca kemarau basah yang terjadi saat ini.
“Musim kemarau basah dengan intensitas hujan yang masih tinggi memang rentan terjadinya serangan jamur dan virus, khususnya untuk tanaman holtikultura bisa mengakibatkan tanaman tidak produktif. Sedangkan tanaman padi memang ada serangan hama serupa namun masih bisa diantisipasi,” kata Kasi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Arin Nikmah, dikutip dari ANTARA pada Jumat (10/6).
Lalu bagaimana penjelasan secara lebih rinci mengenai dampak kemarau basah bagi para petani? Berikut selengkapnya:
Bikin Gagal Panen

©YouTube/Kementerian Pertanian
Arin mengatakan, dua komoditas yang sangat terdampak dengan adanya kemarau basah adalah cabai dan bawang merah. Ia menyebut luas tanaman cabai di Kudus ada 350-an hektare. Sementara luas tanaman bawang merah ada 60-an hektare.
Untuk panen bawang merah seharusnya terjadi pada Bulan Mei-Juni 2022, namun sebagian ada yang gagal panen. Bahkan ada yang terpaksa dibongkar dengan komoditas lainnya seperti tomat dan terong. Sedangkan untuk cabai panennya antara bulan Juni-Juli 2022.
“Pertimbangan petani membongkar tanaman bawang merahnya adalah untuk optimalisasi lahan karena jika tidak dimanfaatkan tentu rugi karena musim tanam berikutnya akan ditanami komoditas lain,” kata Arin.
Penyebab Harga Cabai dan Bawang Melonjak

©2021 Merdeka.com
Karena kemarau basah ini, produktivitas bawang merah maupun cabai jadi berkurang hingga 31 persen dibandingkan musim tanam tahun sebelumnya. Sementara itu komoditas tanaman cabai cenderung bisa bertahan dari serangan virus dan jamur karena suplai airnya terjaga.
Arin mengatakan, untuk mengatasi permasalahan itu, petani harus rutin memantau perkembangan tanaman bawang maupun cabai guna mendeteksi ada tidaknya serangan virus maupun jamur.
Selain itu petani memang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obat-obatan, sehingga harga jual komoditas cabai maupun bawang merah di pasaran sangat mahal karena biaya operasionalnya juga besar.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya