16 Telur Ular Piton Ditemukan di Pekarangan Warga Sragen, Begini Kronologinya
Merdeka.com - Pada pertengahan Bulan Desember 2020 lalu, warga Dukuh Baduran, RT 004, Desa Kalikobok, Kecamatan Tanon, Sragen, digegerkan oleh penemuan 16 butir telur ular piton pada salah satu pekarangan rumah. Tak hanya telur, warga juga menangkap induk ular yang berkeliaran di kampung.
Menurut koordinator Pecinta Ular Exalos Indonesia regional Sragen, Candra Giri, 10 dari 16 telur itu telah menetas. Sementara 6 butir lainnya tidak bisa menetas karena sudah rusak.
Tak hanya piton, menurut Candra, ada ular lain yang tak kalah berbahaya selama penelusuran dengan komunitasnya di Sragen. Apa itu?
Dirawat Sementara

©2020 Merdeka.com/Instagram Imam Darto
Dari 10 anakan ular yang baru keluar dari cangkang, hanya delapan ular yang mampu bertahan hidup hingga kini. Sementara itu, dua ekor lainnya telah mati.
“Ular itu tidak menetas bersamaan. Sekarang panjang anakan ular itu sekitar 30 cm. Anakan ular piton itu masih saya simpan karena belum waktunya dirilis,” kata Candra dikutip dari Liputan6.com pada Senin (4/1).
Belum Berbahaya

©2018 Merdeka.com/Arie Sunaryo
Walaupun dicap sebagai ular mematikan, ketika baru lahir, ular piton tidak berbahaya. Menurut Candra, hal ini disebabkan anakan ular itu masih memiliki cadangan makanan di dalam tubuhnya, sehingga mereka belum perlu mencari mangsa untuk mencukupi kebutuhan perut.
Menurutnya, anakan ular itu baru mulai akan mencari makan setelah mengalami pergantian kulit. Hingga saat itu tiba, Candra akan terus merawatnya.
“Anakan ular itu akan tetap saya rawat sampai ia siap untuk mencari makan sendiri,” ujar Candra.
Temuan Kobra Jawa

©2020 Merdeka.com
Selain ular piton, tim komunitas Exalos Indonesia juga mengevakuasi ular Kobra Jawa di sebuah kandang ayam seorang warga di Desa Tangkil, Sragen. Pada awalnya, warga menyadari keberadaan ular itu dan lantas meminta bantuan Exalos Indonesia untuk mengevakuasinya.
Saat proses evakuasi itu, komunitas itu juga memberi edukasi kepada masyarakat terkait penanganan ular dan menjaga kelestarian ekosistem.
“Edukasi kami anggap penting. Dengan pemahaman dan pengetahuan tentang ular, kami harapkan masyarakat tidak panik. Warga tahu apa yang harus mereka lakukan sehingga ular itu tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” jelas Candra dikutip dari Liputan6.com pada Senin (4/1).
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya