Warga Masih Was-was, Penyebab Tempat Wisata di Jakarta Masih Sepi Pengunjung
Merdeka.com - Tempat wisata di Jakarta sudah mulai di buka akhir pekan lalu seiring penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi. Namun pembukaan tersebut belum berdampak positif pada angka pengunjung.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia menyampaikan hal itu saat rapat bersama Komisi B DPRD DKI. Menurut Cucu, minimnya pengunjung bisa jadi karena masih kekhawatiran datang ke tempat keramaian.
"Orang masih ada perasaan takut untuk datang ke suatu tempat yang mungkin ekspektasinya terlalu ramai," kata Cucu, Selasa (23/6).
Ia merinci, berdasarkan data yang diterimanya, jumlah pengunjung Ancol sebanyak 2.600 orang di hari pertama. Hari kedua, jumlah pengunjung sebanyak 4.600 orang. Jumlah tersebut masih jauh dari kapasitas yang dibuka oleh pihak Ancol.
Taman Margasatwa Ragunan, membatasi jumlah pengunjung sehari sebanyak 1.000 orang. Nyatanya, data mencatat hari pertama TMR dibuka jumlah pengunjung hanya 600 orang.
"Jadi ya ini sih sebenarnya di seluruh dunia juga sama," kata Cucu.
Tren seperti itu diakuinya juga terjadi di pusat perbelanjaan. Padahal, imbuhnya, beberapa tempat wisata dan pusat perbelanjaan di Jakarta membatasi kurang dari 50 persen kapasitas.
"Saya juga tahunya KPPI, mal kisarannya 20-30 persen untuk weekdays, weekend 30-40 persen tergantung malnya jadi ya mungkin orang masih beradaptasi juga untuk datang, wait and see seperti apa."
Agar sektor wisata di Jakarta tidak mati suri, dia mendorong warga Jakarta berwisata ke Pulau Seribu. Sebab, menurutnya, masih banyak warga tidak mengetahui detil wisata kepulauan tersebut.
"Bahkan Pulau Seribu sendiri warga Jabodetabek yang tahu cuma 30-40 persen. Ini riset, bukan main-main waktu saya di Kasubdit tanya Pulau Seribu tahu tapi ditanya berapa duit sih ke sana nah bingung ngapain aja sih di sana," tukasnya.
Tempat wisata di Jakarta sudah mulai di buka akhir pekan lalu seiring penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi. Namun pembukaan tersebut belum berdampak positif pada angka pengunjung.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia menyampaikan hal itu saat rapat bersama Komisi B DPRD DKI. Menurut Cucu, minimnya pengunjung bisa jadi karena masih kekhawatiran datang ke tempat keramaian.
"Orang masih ada perasaan takut untuk datang ke suatu tempat yang mungkin ekspektasinya terlalu ramai," kata Cucu, Selasa (23/6).
Ia merinci, berdasarkan data yang diterimanya, jumlah pengunjung Ancol sebanyak 2.600 orang di hari pertama. Hari kedua, jumlah pengunjung sebanyak 4.600 orang. Jumlah tersebut masih jauh dari kapasitas yang dibuka oleh pihak Ancol.
Taman Margasatwa Ragunan, membatasi jumlah pengunjung sehari sebanyak 1.000 orang. Nyatanya, data mencatat hari pertama TMR dibuka jumlah pengunjung hanya 600 orang.
"Jadi ya ini sih sebenarnya di seluruh dunia juga sama," kata Cucu.
Tren seperti itu diakuinya juga terjadi di pusat perbelanjaan. Padahal, imbuhnya, beberapa tempat wisata dan pusat perbelanjaan di Jakarta membatasi kurang dari 50 persen kapasitas.
"Saya juga tahunya KPPI, mal kisarannya 20-30 persen untuk weekdays, weekend 30-40 persen tergantung malnya jadi ya mungkin orang masih beradaptasi juga untuk datang, wait and see seperti apa."
Agar sektor wisata di Jakarta tidak mati suri, dia mendorong warga Jakarta berwisata ke Pulau Seribu. Sebab, menurutnya, masih banyak warga tidak mengetahui detil wisata kepulauan tersebut.
"Bahkan Pulau Seribu sendiri warga Jabodetabek yang tahu cuma 30-40 persen. Ini riset, bukan main-main waktu saya di Kasubdit tanya Pulau Seribu tahu tapi ditanya berapa duit sih ke sana nah bingung ngapain aja sih di sana," tukasnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya