Tinjau UNBK di SMAN 3, Sumarsono jamin siswa tak bisa mencontek
Merdeka.com - Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono meninjau pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMA Negeri 3, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sumarsono yang tiba sekitar pukul 07.00 WIB itu sempat memberikan pidato yang disaksikan para guru dan murid.
Menurutnya, kunjungannya ke SMA N 3 hanya sebagai sampel dari beberapa sekolah saja yang berada di Jakarta yang menggelar UNBK pada hari ini.
"Hari ini saya hanya memantau di SMA 3 aja, ini hanya sampel dan saya yakin di SMA lain juga sama, karena ini menggunakan satu sistem yang sama yaitu yang disebut UNBK," katanya di lokasi, Senin (10/4).

Pria yang akrab disapa Soni ini mengatakan Jakarta merupakan daerah pertama diberlakukannya UN dengan komputer. Menurutnya UNBK memiliki banyak kelebihan, salah satunya dari sisi keamanan sehingga siswa tak bisa mencontek ke teman.
"Yang pertama, sistem pengamanannya variasi antar soal membuat perbedaan meja satu dengan meja sebelahnya sehingga membuat tidak adanya menyontek," katanya.
Sementara kelebihan yang kedua, menurutnya, tidak akan ada kebocoran soal. Sebab selain adanya pengamanan sistem, singkronisasi h-2 dilakukan dan baru bisa dibuka pada saat hari H.
"Dan (kelebihan) yang ketiga karena memang variasi bocoran yang mana yang dipakai yang mana kan bingung, jadi bisa dipastikan nol untuk jumlah kasus kebocoran yang ada di Jakarta ini dengan UNBK ini. Dengan total sekolah yang banyak ini 470 SMAN dan swasta 92 dengan total 562 sekolah di seluruh Jakarta ini menggunakan sistem yang sama dengan soal yang berbeda, yang melibatkan 50 ribu lebih atau 394, atau 50.394 ditambah 7.100, 34 dari MA, dengan demikian seluruh Jakarta pada parade yang sama tapi dengan variasi yang berbeda dari sesinya," jelasnya.
Dia mengatakan, UNBK di SMA N 3 Setiabudi, Jaksel, dilaksanakan beberapa sesi karena keterbatasan jumlah komputer.
"Sekolah ini bagus punya empat kelas dengan mempunyai komputer permanen dengan suhu yang tertentu, maka di sini total siswa 344, makanya dibuat 3 sesi, tapi di sekolah lain ada juga yang dibagi dua sesi. Yang pasti semua siswa bisa menggunakan komputer sebagai basis ujian," katanya.
Menurutnya, di sekolah lain, ada 20 siswa inklusif yang mengikuti UNBK. 16 di antaranya menggunakan komputer dan empat lainnya menggunakan brail.
"Tapi sekolahnya enggak di sini, di sekolah lain, total ada. Artinya bahwa Jakarta memang makin ramah dengan disabilitas, tidak harus trotoar disabilitas, pelayanan psikiater disabilitas, tapi sekolah pun juga ramah dengan disabilitas saat ini," katanya. (mdk/dan)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya