Teknisi AC jatuh & tewas, Ahok geram biro umum tak becus beri arahan
Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengatakan, seharusnya tidak ada kecelakaan kerja yang berujung meninggalnya petugas kontrak saat memperbaiki AC di Balai Kota DKI Jakarta pada 1 April 2016 lalu. Kejadian ini tidak akan terjadi bila pihak Biro Umum DKI Jakarta memberikan pendampingan.
Menurut Ahok, sapaan Basuki, kejadian di atas menunjukkan tidak becusnya Kepala Biro Umum Agustino. Bukannya melakukan evaluasi, dia malah menyalahkan pihak kontraktor yang mempekerjakan korban.
"Aneh ada petugas swasta jatuh. Kekonyolan namanya kalau kontraktor kerja tanpa kita ngerti. Biro umum nyalahin kontraktor lagi. Enggak bisa. Ini kesalahan biro umum. Enggak becus," kata Ahok saat pembuka pelatihan K3 di Balai Kota DKI, Senin (23/5).
Dia mengibaratkan saat sedang mempekerjakan asisten rumah tangga. Agar mereka bekerja dengan benar, maka sebagai pemilik rumah akan memberikan penjelasan dan fungsi alat-alat elektronik, seperti kulkas, microwave dan dispenser.
Pelatihan sangat penting untuk menjamin keselamatan kerja. Harapannya dengan ada pelatihan ini tidak ada orang meninggal karena tidak dapat menggunakan hydran atau panik.
"Pelatihan ini harus bisa. Harga mati. Alangkah malunya kita, kalau ada kejadian ditemukan mati terbakar padahal di situ ada hydran. Yang penting jangan panik. Ini hukumnya wajib. Kalau dalam agama, enggak dilakukan dosa. Jadi bukan makruh tapi wajib," tegas Ahok.
Sebelumnya, teknisi AC yang jatuh dari atap Gedung Balai Kota DKI Jakarta, atas nama M. Zaenuddin (30), akhirnya meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat. Korban meninggal karena cedera parah di kepala.
Kasubbag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengatakan, peristiwa kecelakaan kerja itu terjadi sekitar pukul 19.45 WIB.
"Korban jatuh dari atap Gedung Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta saat memperbaiki AC dengan posisi telentang dan bagian belakang kepala mengeluarkan darah," ujar Suyatno, kepada Beritasatu.com, Jumat (1/4).
Dikatakan Suyatno, berdasarkan keterangan saksi teman kerja korban atas nama Ace Mustopa dan Topan, kronologi jatuhnya korban bermula ketika Zaenuddin naik ke plafon Gedung Balai Agung Balai Kota DKI Jakarta, sekitar pukul 18.30 WIB. Tujuannya, untuk merenovasi AC.
"Sekitar pukul 19.20 WIB, tiba-tiba korban terjatuh dari atas plafon. Korban langsung dibawa ke RSUD Tarakan diantar temannya," ungkapnya.
Sayang, nyawa korban akhirnya tidak tertolong. Ia menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 20.10 WIB di RSUD Tarakan. "Penyebabnya karena cedera kepala berat, pendarahan," tandasnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya