Tangani banjir Jakarta, Ahok gunakan desain tahun 1973
Merdeka.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya melakukan normalisasi sungai dan waduk sebagai antisipasi terjadinya banjir. Namun, cetak biru pembangunan infrastruktur ini merupakan kelanjutan dari era Ali Sadikin saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, desain penanggulangan banjir di ibu kota sebenarnya sudah siap semenjak tahun 1973. Sehingga itu yang sampai saat ini menjadi pegangan dirinya dalam melakukan normalisasi sungai dan waduk.
"Tahun 1973 udah punya desainnya semua. Makanya saya bingung kalau kamu (orang) bilang ada cara di luar normalisasi bikin waduk tanggul pompa di Jakarta, saya bingung. Karena Belanda sampai hari ini masih gunakan cara yang sama, daerah kota delta," katanya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/2).
Mantan Bupati Belitung Timur ini menjelaskan, kondisi geografi Jakarta merupakan tanah endapan, di mana selatannya merupakan gunung. Sehingga segala tanah ataupun lumpur yang berasal hulu semuanya akan terbawa ke hilir menyebabkan pengendapan di tali-tali air ibukota.
"Makanya endapan tinggi. Itu yang membuat kita beli alat berat sendiri. Alat berat kami bisa di tracking lagi. Kita kontrol dengan baik," terangnya.
Ahok mengungkapkan, tidak akan menerapkan sistem penanggulangan banjir sama persis seperti Belanda. Alasannya, karena dia masih ingin memberdayakan tenaga kerja ibukota, sebagai pengontrol tinggi pintu air akan dibuka.
"Pertanyaanya mau gak bikin kayak Belanda jadi otomatis tinggi sekian. Ngapain? Tenaga kita butuh banyak kok. Minimal kita minta maaf sama orang Jakarta ya karena hujan besar. Apalagi ibu rumah tangga saya ngerti. Kalau ngungsi, air panas mesti ada, kasihan kalau bikin susu enggak ada air panasnya," tutupnya.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya