Salak Condet, maskot Jakarta yang telah punah

Reporter : Agib Tanjung | Sabtu, 22 Juni 2013 11:03




Salak Condet, maskot Jakarta yang telah punah
Ilustrasi salak condet. ©blogspot.com

Merdeka.com - Hari ini merupakan hari ulang tahun DKI Jakarta. Ibu Kota kini telah berusia 486 tahun. Namun seiring berkembangnya kota metropolitan ini, banyak sejarah yang mulai tergerus oleh zaman. Salah satunya adalah maskot kota Jakarta.

Kebanyakan orang mungkin tidak tahu bahwa maskot Jakarta adalah Elang Bondol dan Salak Condet. Bukan Monumen Nasional (Monas), bangunan pencakar langit yang memang identik yang terletak di sekitar Jl Merdeka, Jakarta Pusat.

Di Jakarta, Salak Condet pernah berjaya di awal tahun 80-an. Namun sayang, produk unggulan dari Kampung Betawi ini terancam punah karena semakin terbatasnya lahan untuk menanam salak.

Salak Condet mempunyai rasa manis asam. Daging buah yang agak besar memberi cita rasa tersendiri bila dibandingkan Salak Pondoh ataupun Salak Bali. Buah yang sudah tua biasanya akan menjadi lebih masir. Masir itu adalah suatu keadaan ketika daging buah salak lebih lengket pada bijinya. Pada kondisi ini salak terasa lebih manis.

Menurut berbagai sumber dan literatur yang ada, kini Salak Condet sudah hampir jarang dijumpai lagi. Malahan bisa dibilang, buah legenda ibu kota ini sudah terbilang punah.

Ketua Dewan Holtikultura Nasional Ir Benny A Kusbini mengatakan, Salak Condet semakin hilang disebabkan karena pertumbuhan masyarakat di Jakarta semakin tinggi.

"Salak Condet ini mulai hilang karena sudah terdesak oleh pertumbuhan masyarakat yang makin tinggi. Di mana banyak yang mendirikan rumah-rumah dan perkantoran di lahan yang seharusnya itu untuk budidaya Salak Condet," kata Benny saat berbincang santai dengan merdeka.com.

Menurut Benny, penyebab lain hilangnya Salak Condet karena masuknya buah-buah impor yang lebih mendominasi pasar modern di Jakarta. "Buah-buah impor yang masuk juga mengakibatkan Salak Condet semakin dilupakan dan tidak begitu diminati dan dicari lagi," tambahnya.

"Generasi muda kita ini sekarang kebanyakan dicontohkan oleh orang-orang tuanya untuk makan buah impor. Ya anggur, jeruk, apel dan lainnya," keluh Benny.

Benny berharap agar Pemda DKI Jakarta lebih memperhatikan maskot ibu kota yang hampir punah ini. Dia yakin Salak Condet masih bisa dilestarikan lagi, bahkan dapat menjadi daya tarik heritage Jakarta.

"Kalau Pemda DKI mau dan serius, Salak Condet ini bisa dijadikan destination wisata kota Jakarta, bisa menjadi kebudayaan Betawi, menjadi heritage," harap Benny.

[lia]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • H+3 Lebaran, lalu lintas Jakarta masih lengang
  • Urai kemacetan, pintu M1 Bandara Soekarno-Hatta dibuka
  • Kisah kesaksian Nabi Idris melihat surga & neraka
  • Pabrik tekstil penuhi order ekspor sepekan sebelum lebaran
  • Arus balik H+3 Lebaran, lalu lintas Garut menuju Bandung padat
  • Pramugari Australia suruh penumpang buang narkortika di jamban
  • Tim Prabowo-Hatta tidak gugat KPUD Kota Tangerang ke MK
  • Renegosiasi Freeport harus libatkan masyarakat adat Papua
  • Kebakaran terjadi di belakang Apartemen Grand Palace
  • McLaren P1 versi sirkuit akan hadir dengan paket lengkap
  • SHOW MORE