Saat Petugas Pemusalaran Mulai Kewalahan Banyak Pemakaman dengan Prokes Covid
Merdeka.com - Wara wiri ambulans kembali sering terdengar di jalanan seiring kasus Covid-19 kembali meningkat. Ada yang menuju rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan, tetapi tak sedikit menuju pemakaman.
Nuryasin, salah satu petugas pemusalaran jenazah Covid-19 di Jakata bercerita. Dia sampai kewalahan melaksanakan pemakaman dengan protokol kesehatan Covid-19 yang beberapa hari terakhir jumlahnya kian melonjak.
Nuryasin masuk dalam tim Monas. Menurutnya, dia bersama rekan-rekannya hanya mampu maksimal memakamkan 12 jenazah.
"Kemampuan kami biasanya sampai besok pagi maksimal hanya 12 jenazah. Itu 12 jenazah juga, kami sudah tidak tidur sama sekali," kata Nuryasin saat ditemui ANTARA. Dilansir pada Sabtu (26/6).
Sedangkan pada Jumat kemarin, kata Nuryasin, sudah 27 jenazah yang pengurusannya dilaksanakan secara protokol kesehatan oleh Tim Monas.
"Sudah 27 sama ini (jenazah I)," kata Nuryasin.
Selain kendala tersebut, ada kendala lain yakni jarak antarwilayah di DKI Jakarta terlalu jauh dari taman pemakaman umum khusus COVID-19 di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.
"Mungkin jarak juga, karena dulu kan ada dua tempat ya. Sekarang kan cuma satu pintu, sehingga terjadi antrean," kata Nuryasin.
Sebelumnya, jenazah pengidap COVID-19 berinisial I (40) harus tertahan di rumahnya di kawasan Pademangan, Jakarta Utara selama sehari sebelum dievakuasi oleh petugas dan dimakamkan secara protokol COVID-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat.
Ketua RT 07/ RW 011 Pademangan Barat, Sudarto, mengatakan jenazah tersebut sedianya akan dimakamkan keluarga ketika dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (24/6).
Namun itu batal terlaksana karena petugas Puskesmas menyatakan jenazah tersebut positif COVID-19 dan harus dimakamkan secara protokol kesehatan.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya