Penjelasan Ahok soal keresahan warga Bukit Duri di Rusun Rawa Bebek
Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendapatkan pengaduan adanya kekeliruan terhadap warga penerima unit rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) Rawa Bebek. Diduga ada pihak berlaku curang agar mendapatkan kompensasi normalisasi sungai tersebut.
Ada beberapa trik dilakukan pemilik kontrakan dengan mengusir warga telah puluhan tahun tinggal. Padahal warga tersebut telah memiliki identitas kependudukan di kawasan Bukit Duri. Namun, para pemilik kontrakan memasukkan identitas saudaranya.
"Saya temukan biasa sedikit trik. Orang yang sudah ber-KTP rusun berapa tahun ngontrak. Orang miskin biasanya ngontrak 10 tahun sampai 20 tahun di situ, KTP sudah lama di situ, itu diusir. Sehingga watku mau dapat kunci rusun, yang tinggal 20 tahun karena status kontrak, KTP di sana enggak dapat. Dia ganti tuh tuan rumah saudaranya," jelas Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (18/4).
Mantan Bupati Belitung Timur ini menambahkan, akhirnya dengan cara semacam itu banyak warga seharusnya mendapatkan rusun akhirnya terlantar. Sehingga unit tersebut malah kosong dan tanpa penghuni.
"Kalau kamu punya rumah dimasukin, kamu tinggal di rusun? Pasti enggak tinggal. Akhirnya nyalahin lampu tutup hordeng. Itu yang kita sita kembali. Sita kembali ngamuk. Ribut, demo kayak dulu, tinggal di pinggir sungai," terangnya.
Untuk itu, Ahok mengatakan, warga mengontrak di kawasan Bukit Duri pasti tidak akan menolak saat direlokasi. Karena biaya sewa setiap bulannya jauh lebih murah, dengan unit yang lebih besar dengan kawasan tertata rapi.
"Maka yang dipindahin orang sementara. Main pindah, Dia enggak mau debit, bayar, sementara yang ngontrak nangis-nangis minta rusun. Dia lebih baik tinggal di rusun dong, murah Rp 150 ribu. Pinggir sungai juga Rp 150 ribu jelek-jelek begitu. Orang ini enggak pernah dapat. Makanya habis ini aku mau ke Rawa Bebek," pungkasnya. (mdk/ang)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya