Pemprov DKI Hitung Tarif MRT
Merdeka.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan Bank Indonesia sedang menghitung tarif rangkaian Moda Raya Terpadu (MRT). Saat ini, manajemen MRT dan BI sedang melakukan pengujian untuk dapat menggunakan tiket yang terintegrasi.
"Saat ini tarif sedang dalam proses akhir untuk kita menentukan. Perhitungan-perhitungan semua sudah selesai sebetulnya. Kemudian kita juga akan lakukan kerja sama BI," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seperti dilansir dari Antara, Kamis (31/1).
Dia mengungkapkan, awalnya MRT mengajukan tarif Rp8.500. Namun akhirnya konsep tersebut diubah dengan memberikan Public Service Obligation (PSO) untuk integrasi transportasi. Ke depan konsepnya adalah pemberian PSO untuk keseluruhan dan satu paket perjalanan.
"Kalau nilainya (tarif) kita umumkan pada Februari mungkin pertengahan atau akhir," ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.
Sebelumnya, Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar menjelaskan, satu kali perjalanan bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 30 ribu per orang. Pihaknya mengusulkan tarif sebesar Rp 8.500 per 10 kilometer kepada Pemprov DKI Jakarta dan masih menunggu persetujuan.
Karena cukup banyak kekurangan tersebut, William mengatakan, pihaknya berupaya mengembangkan bisnis untuk memenuhi kekurangan pendapatan pada tiket.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Ghamal Peris menyebutkan setidaknya ada tiga strategi pengembangan bisnis yang dilakukan pihak MRT untuk menutup kekurangan biaya operasional tersebut.
Pertama, adalah kemitraan nama stasiun dengan sistem 'sponsorship' dengan kontrak selama lima tahun pada perusahaan yang berjarak 700 meter dari stasiun. Saat ini ada empat stasiun yang telah menjalin kemitraan yakni Dukuh Atas (BNI), Setiabudi (Astra), Istora (Mandiri), Sisingamangaraja (ASEAN yang merupakan kerja sama diplomatik).
"Saat ini untuk tahap dua dibuka empat stasiun yang terbuka untuk seluruh perusahaan di Indonesia," ujar Ghamal.
Kedua, adalah area komersial di stasiun bagi perusahaan retail. Saat ini sudah ada 15 mitra retail yang telah bergabung di 10 stasiun pada tahap satu.
"Pada tahap kedua MRT membuka tiga stasiun untuk delapan mitra retail baru yakni di Haji Nawi (tiga lokasi), Blok A (empat lokasi) dan Sisingamangaraja (satu lokasi)," ujar dia.
Yang ketiga, adalah penyediaan 16 lokasi untuk UMKM di lima stasiun yakni Lebak Bulus (enam UMKM), Haji Nawi (satu UMKM), Blok A (satu UMKM), Fatmawati (enam UMKM) dan Dukuh Atas (dua UMKM).
Saat ini, lanjut dia, telah ada 16 UMKM yang terdiri dari kuliner (delapan pedagang), busana (lima pedagang) dan kerajinan (tiga pedagang) yang diharuskan membayar sekitar Rp1,3 juta setiap bulan untuk lokasinya.
"MRT bersama Bekraf akan menyeleksi proposal UMKM dan memilih 16 mitra UMKM untuk diberikan kesempatan menempati lima stasiun itu dan mendapatkan pembinaan inkubator bisnis," kata Ghamal.
Selain itu, MRT menggandeng perbankan sebagai mitra untuk sistem tiket pembayaran dan juga kerja sama dalam hal promosi MRT Jakarta.
MRT Jakarta akan beroperasi mulai 24 Maret 2019 setelah diujicoba publik dan latihan keadaan darurat (emergency operating training) mulai 26 Februari 2019 mendatang.
Pada waktu tersebut, masyarakat umum juga bisa menggunakan moda transportasi baru di Jakarta ini dengan cuma-cuma. Namun harus mendaftar terlebih dahulu di laman web resmi MRT Jakarta.
MRT Jakarta direncanakan menjadi bagian program terintegrasi transportasi di Jakarta bernama Jak Lingko yang akan mengintegrasikan moda angkutan MRT, LRT dan TransJakarta.
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya