Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pembelaan sopir Metro Mini selalu ugal-ugalan di jalan

Pembelaan sopir Metro Mini selalu ugal-ugalan di jalan Terminal Blok M. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Pemerintah DKI Jakarta melarang operasi bus Metro Mini mengangkut penumpang. Larangan tersebut lantaran banyaknya bus Metro Mini yang sudah uzur alias tidak layak beroperasi dan memakan banyak korban di jalan raya.

Kecelakaan Metro Mini yang menerobos palang pintu kereta api dan tertabrak kereta api commuterline hingga menelan 18 korban jiwa di Muara Angke, Jakarta Barat, Minggu (6/12) menjadi salah satu insiden mengenaskan menimpa angkutan massal Ibu kota Jakarta ini. Tetapi kejadian serupa bukan sekali menimpa Metro Mini. Banyak kecelakaan maut kerap menimpa bus angkutan umum itu hingga awal pekan ini membuat Pemprov DKI mencabut izin trayeknya.

Akan tetapi, ada sopir Metro Mini yang tidak sependapat dengan larangan tersebut. Salah satunya sopir Metro Mini 69 jurusan Ciledug-Blok M, yakni Andre menolak disamaratakan dengan sopir lain yang suka ugal-ugalan dan membahayakan penumpang di jalan raya.

"Enggak semuanya sopir Metro Mini itu ugal-ugalan, emangnya kita setan," tegas Andre saat ditemui Merdeka.com.

Andre mengaku dirinya masih memikirkan keselamatan dirinya dan para penumpang. Andre juga tidak menapik bahwa dirinya dulu sempat menjadi sopir Metro Mini yang ugal-ugalan.

"Kita juga mikirin keselamatan penumpang mas, apalagi saya sudah punya bini dan anak. Dulu emang saya sering ugal-ugalan mas tapi sekarang sudah nggak," uncap Andre.

Beda dengan Simbolon (37) yang sudah lama menjadi sopir Metro Mini di Blok M yang mengakui memang banyak penyebab angkutan umum ini mengalami kecelakaan dan memakan korban. Menurut dia, faktor paling sering terjadi yakni berebut penumpang.

"Bisa jadi dia(supir) kejar setoran, berebut penumpang. Atau memang pengemudi mau gaya-gayaan, itu sih tergantung orangnya (sopir)," kata Simbolon saat ditemui merdeka.com di lokasi, Senin (7/12).

Simbolon sendiri mengaku tidak mau ambil risiko kebut-kebutan saat membawa penumpang. Dia beralasan selalu ingat pesan istri dan anaknya di rumah. "Saya narik (bawa penumpang) kecepatan standar lah. Ingat pesan istri, anak nunggu di rumah," ucap pria asal Sumatera tersebut.

Soal kejar setoran, Simbolon tidak menampik sering menerapkan cara itu. Sebab, dirinya menyadari persaingan angkutan umum di ibu kota sudah ketat dan sulit. Bila setoran kurang, tentu jadi masalah bagi Simbolon. Apalagi Metro Mini dikendarainya sehari-hari bukan miliknya.

"Pikirin setoran seharian, apalagi kalau penumpang sepi. Setoran pake apa ke Bos?," ujar Simbolon.

Sopir Metro Mini lainnya, Marpaung (41), merasa perlu adanya edukasi bagi para pengendara. Selama ini, diakuinya terlalu mudah menjadi sopir Metro Mini. Tidak sedikit banyak sopir baru bisa nyetir sudah menarik penumpang. Mengaku telah kendarai Metro Mini belasan tahun menjadi, Marpaung sebut sopir ugal-ugalan adalah mereka yang baru bisa nyetir.

"Baru bisa dikit sudah jadi sopir. Nah, ini yang biasanya suka ugal-ugalan di jalan. Kemampuan (pengalaman) rute jalan masih minim, main serobot saja di jalan raya. Itu yang bahaya," keluh Marpaung.

Menurutnya, para sopir baru ini memang berusia masih muda. Sehingga mereka masih nekat membawa Metromini. "Jiwa muda kali ya, maunya ngebut kalau lagi bawa penumpang. Ya kalau setoran juga penting, tapi nyawa yang jadi taruhannya bagaimana?" paparnya.

Di singgung soal perilaku buruk supir yakni mabuk saat membawa penumpang, dirinya menanggapi dengan santai bahkan dirinya melarang hal tersebut dilakukan oleh semua supir angkutan umum. "Ya kalau lagi nyupir bawa penumpang dia mabuk kan urusan pribadinya. Sebaiknya jangan lah. Bahaya di jalan," tutupnya.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP