Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

'Pelaku vandalisme Monas lebih galak dari petugas saat ditertibkan'

'Pelaku vandalisme Monas lebih galak dari petugas saat ditertibkan' Pagar di Monas dipotong. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Besi pagar Monas dalam keadaan terpotong rupanya bukan cerita baru. Sering kali hal itu ditemukan petugas saat melakukan penyisiran.

"Kita selalu berupaya semaksimal mungkin untuk menertibkan itu, tapi yang mereka (pelaku vandalisme) selalu bisa cari kelemahan kita," kata Kepala Unit Pelaksana (UP) Monas, Rini Haryani, kepada merdeka.com, Kamis (15/10).

Dia menjelaskan, menertibkan Monas dari tangan dan ulah-ulah orang tak bertanggung jawab tak semudah dibayangkan. Karena, katanya, mereka harus berhadapan langsung dengan warga yang berprilaku vandalisme.

"Di Monas ini gampang-gampang susah. Padahal sekuriti kita muter. Tapi oknum-oknum udah hafal ini jam muternya petugas. Jadi saat petugas muter mereka enggak ada, tapi setelah petugas patroli lewat lokasi, mereka muncul lagi," jelasnya.

Selama ini, lanjut Rini, pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi warga-warga nakal yang merusak keindahan Monas. Tapi, lagi-lagi, warga selalu lebih galak bila ditertibkan.

"Sebenarnya kita lagi mau perbanyak CCTV yang diarahkan ke pagar. Tapi ini masih proses dengan Kemenkominfo. Untuk sekuriti, sehari ini ada 30-40 yang berjaga mulai dari pintu, tugu sampai posko. Tapi itu tadi, lagi-lagi kalau ditertibkan mereka lebih galak," tambahnya.

Soal besi-besi pagar yang dipotong, tambahnya, bisa jadi dilakukan malam hari. Pelaku cukup lihai, karena setelah pagar dipotong, mereka coba memposisikan seperti semula sehingga tak terlihat seperti dipotong.

"Itu digergaji diperkirakan malam dan waktu terang sudah dicabut. Dan dia kembalikan posisinya seakan-akan enggak ada apa-apa. Saat ini melakukan pengecekan secara kasat mata memang seperti tidak apa-apa, tapi pas kita tarikin satu per satu besinya ternyata sudah terpotong. Nah ini kan namanya tabiat," ucapnya geram.

Saat ditanya mungkinkah ada petugas yang terlibat, dia menduga pernyataan itu hanya untuk mengkambinghitamkan anak buahnya. "Itu bahasa mereka (oknum yang merusak), mereka kambing hitamkan sekuriti kita, mereka melawan, seperti PKL, itu mereka bilang ini Tanah Tuhan," sambungnya.

Tapi, mereka optimis mampu menyelesaikan persoalan demi persoalan yang terjadi di Monas. Termasuk kondisi taman yang sering kali dirusak karena pedagang di luar seenaknya buang air bekas dagangan.

Seperti diberitakan sebelumnya, pagar pada salah satu sisi Monas terlihat sudah dipatahkan orang-orang jahil. Pagar yang terpotong itu kemudian jadi pintu ilegal pengunjung yang ingin keluar masuk. Mereka pun memungut Rp 2.000 dari pengunjung yang melintas di sana.

"Ini sudah dipotong. Kami tidak tahu siapa yang memotongnya," terang pria berperawakan tua saat menjaga di salah satu besi pagar yang terpotong, Rabu (14/10).

Tampak dari penampilannya dia bukan petugas yang berjaga di Monas. Pria yang enggan menyebutkan namanya itu kelihatan gusar ketika ditanya lebih jauh tentang siapa yang berinisiatif memotong besi-besi itu.

"Jangan tanya kepada saya. Saya tidak tahu," jawabnya gusar sambil meminta uang kepada pengunjung yang keluar masuk.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP