Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pedagang di Tanah Abang takut buka mulut soal jatah preman

Pedagang di Tanah Abang takut buka mulut soal jatah preman tanah abang semrawut. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Tanah Abang berantakan, atau tidak teratur. Menurutnya, ada orang yang menyewakan lahan di luar gedung pasar kepada pedagang hingga mencapai Rp 24 juta per bulan.

Namun, saat merdeka.com telusuri, pernyataan Ahok seolah tidak terbukti. Para pedagang mengaku tidak membayar uang sewa kepada siapapun.

"Kita di sini gratis kok," ujar salah satu pedagang Aswarman (50) saat ditemui merdeka.com di Tanah Abang, Jakarta, Rabu (10/7).

Aswarman menjelaskan, dalam urusan lapak dagangan mereka hanya dikenakan uang retribusi sampah sebesar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu. Gratisnya mereka berdagang, karena yang berjualan memang orang-orang lama.

"Kebanyakan warga belakang Pasar Tanah Abang, makanya kita gratis. Kalaupun ada, palingan ada setoran keamanan Rp 100 ribu ke preman-preman," ujar pria yang telah berdagang selama 15 tahun itu.

Hal senada juga diucapkan oleh pedagang lain Tuti (45). Tuti mengatakan selama 10 tahun berdagang di kawasan Tanah Abang, tidak ada yang namanya sewa-menyewa.

"Apalagi calo, kita gratis karena kita orang lama yang dagang. Ada juga yang orang lama namun lapaknya di wariskan ke kerabatnya dan ada itung-itungannya," kata Tuti.

Beberapa pedagang lain ketika ditanya juga menjawab hal yang sama. Jadi, entah mereka memang takut buka-bukaan soal sewa dan calo, atau memang pernyataan Ahok yang keliru. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP