Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Omicron BA.4 Masuk Jakarta, Perlukah Pengetatan Aturan?

Omicron BA.4 Masuk Jakarta, Perlukah Pengetatan Aturan? Lonjakan Kasus Covid-19. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Pandu Riono menilai tidak perlu ada langkah ekstrem yang dilakukan Pemprov DKI, seperti membatasi aktivitas masyarakat, usai konfirmasi kasus Covid-19 varian Omicron BA4. Fokus utama bagi Pemprov menurut Pandu adalah tingkatkan cakupan vaksinasi booster.

"Enggak perlu (pembatasan aktivitas masyarakat di Jakarta) yang penting vaksinasi booster," ujar Pandu dikonfirmasi merdeka.com, Senin (12/6).

Merujuk soal vaksinasi booster, Pandu juga menyoroti cakupan booster di Jakarta sepatutnya perlu ditingkatkan.

Merujuk informasi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, hingga Minggu (11/6), total cakupan vaksinasi booster untuk Covid-19 mencapai 7.793.074 orang yang terdiri 3.852.161 non-tenaga kesehatan dan 3.940.913 orang tenaga kesehatan.

"Masih perlu ditingkatkan cakupan boosternya terutama lansia," ucapnya.

Dia pun mengingatkan seluruh lapisan masyarakat dan Pemprov DKI agar tidak panik dengan konfirmasi kasus varian baru ini. Sebab dia mengatakan bahwa tingkat kesakitan atau keparahan dari virus ini masih dapat dikendalikan penularannya, terpenting menerapkan upaya pencegahan penularan virus.

"Bisa (dikendalikan), tidak perlu panik," katanya.

Senada dengan Pandu, epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman menyarankan agar Pemprov DKI dan seluruh pemerintah daerah meningkatkan cakupan dosis ketiga (booster), dibandingkan melakukan pembatasan aktivitas masyarakat.

"Saran saya untuk semua Pemda terkait keberadaan BA4 & BA5, akselerasi dosis 3 vaksin Covid-19," kata Dicky.

Dia menuturkan, kelompok prioritas untuk mendapatkan booster di tengah konfirmasi kasus varian baru dari Omicron adalah, kelompok lansia. Selain itu, menurut Dicky, menggunakan masker dalam ruangan juga menjadi upaya terbaik saat ini.

"Prioritaskan percepatan pada kelompok risiko tinggi, kenakan masker berkualitas di dalam ruangan, dan penyediaan tes antigen untuk kasus kontak atau bergejala," imbaunya.

Diketahui, pemerintah mendeteksi empat kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di wilayah DKI Jakarta. Temuan ini membuat total kasus subvarian Omicron baru itu di tingkat nasional naik menjadi delapan.

Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan mengatakan, dari seluruh pasien, satu di antaranya mengeluhkan sesak napas. Sementara sisanya mengalami gejala Covid-19 ringan.

Pasien yang mengeluhkan sesak napas ini tercatat berumur 20 tahun. Berdasarkan hasil tes Whole Genome Sequencing (WGS), pasien terkonfirmasi positif subvarian Omicron BA.5 pada 10 Juni 2022. Diduga, kasus ini hasil transmisi lokal.

"Ini satu-satunya (pasien) yang gejalanya lebih berat," kata Erlina, Minggu (12/6).

Selain sesak napas, pasien ini mengalami batuk, sakit kepala, lemah, mual, muntah, dan nyeri abdomen. Menurut Erlina, pasien ini sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap dengan jenis Sinovac.

Pasien mendapatkan vaksinasi terakhir pada 7 Mei 2021. Erlina mengaku belum mengetahui pasti proses replikasi subvarian Omicron BA.5.

"Ada dua kemungkinan bahwa mungkin BA.5 ini replikasinya banyak di saluran napas bawah dibandingkan Omicron yang BA.1 dan BA.2, yang replikasinya di luar saluran napas. Bisa jadi juga karena penyakit lain mungkin asma ini perempuan masih muda," jelasnya.

(mdk/rhm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP