Mengais pundi-pundi rupiah dari hitamnya air BKT yang bau
Merdeka.com - Warna air di Banjir Kanal Timur (BKT), Taman Malaka Barat, Jakarta Timur, belakangan mengalami perubahan. Jika biasanya air yang mengalir di BKT lumayan jernih, beberapa waktu belakangan berubah menjadi hitam dan menimbulkan bau tidak sedap.
Saat merdeka.com menyambangi lokasi, Senin (25/9) siang, air terpantau begitu keruh dan hitam. Aroma tak sedap juga tercium. Merdeka.com mencium bau apek dan tengik di lokasi.
Meski begitu, ada sejumlah orang yang turun ke BKT. Mereka terlihat mencari sesuatu di dalam air. Entah mencari ikan atau apa.
"Airnya sih bau, seperti (bau) got gitu agak sangit bagaimana gitu ya. Kalau (warna airnya) normal enggak bau," kata salah seorang warga bernama Hinul (55) di lokasi, Senin (25/9).

BKT tercemar ©2017 Merdeka.com/kadek
Hinul merupakan warga Cikunir Bekasi yang berprofesi sebagai pencari cacing di sungai BKT Jakarta Timur.
Pantauan merdeka.com, di sekitar lokasi tak terlihat ada pabrik atau industri yang dapat diduga menjadi penyebab pencemaran di BKT. Hinul menduga air berwarna hitam itu terjadi akibat air dari got-got yang tersalurkan ke BKT.
Meski air di BTK berwarna hitam, tak membuat Hinul berhenti mengais rezeki. Dia tetap saja turun ke BKT untuk mencari cacing.
"Ya terpaksa nyari tempat yang ada. Kalau (cacing) enggak ada di Duren Jaya, ya di sini," katanya.
Hinul menceburkan dirinya ke tengah aliran BKT untuk mengambil lumpur yang biasanya mengandung cacing. Nantinya cacing tersebut akan dibawanya ke peternak ikan untuk ditukarkan menjadi pundi-pundi rupiah.
"Buat dijual lagi nanti cacingnya ke peternak ikan buat umpan," kata Hinul.

BKT tercemar ©2017 Merdeka.com/kadek
Meski kadar PH air di BKT dikabarkan lebih dari 7, Hinul tak mempedulikannya. Dia tetap saja menceburkan diri ke tengah BKT buat mencari cacing.
"Palingan kulit bau habis cari cacing kalau belum mandi," katanya.
Dia mengaku sudah melakoni kegiatan mencari cacing sejak tujuh tahun lalu atau sejak tahun 2010. Dia pun berharap pemerintah atau petugas terkait mencari penyebab menghitamnya air di BKT.
"Kalau bisa pemerintah coba diteliti ini kenapa hitamnya kalau lagi (musim) panas saja," katanya.
"Ini sampai ke laut, laut Marunda. Karena pengaruh air di sini yang mengalir ke sana (Marunda) jadi cacing pada habis di sana," kata Hinul.
Dia mengaku hanya mencari cacing di BKT. Namun, kata dia, ada juga orang lain yang mencari ikan di BKT. Biasanya, ikan sapu-sapu yang menjadi target mereka.
"Kalau sapu-sapu bisa hidup di air kotor atau air bersih, kalau ikan yang lain enggak," katanya.

BKT tercemar ©2017 Merdeka.com/kadek
Sementara itu, Fendi, penjaga Pintu Air 1 BKT, mengatakan beberapa waktu lalu ada dua orang berpakaian baju Dinas DKI Jakarta mengambil dua botol sampel air BKT. Informasi yang diperolehnya, air itu akan dites di laboratorium. Namun demikian dia tak mengetahui apa hasil tes laboratorium terhadap air di BKT yang diduga tercemar limbah itu.
Dia membeberkan perubahan warna air tersebut kerap terjadi tiap musim kemarau. Menurutnya, masyarakat sekitar juga tak kaget melihat kondisi BKT yang berubah menjadi hitam saat kemarau. Namun, saat musim telah berganti atau hujan turun, warna air akan kembali normal.
"Nanti kalau hujan, setengah jam saja bagus airnya. Tapi kalau enggak hujan nanti begini lagi," katanya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya