Membuka catatan pengembaraan jagoan betawi Bang Pitung
Merdeka.com - Saat berkuasa atas tanah Batavia, pemerintah Hindia Belanda punya satu musuh besar. Namanya Pitung atau yang disebut-sebut bernama asli Salihoen. Selama delapan tahun Pitung berhasil membuat resah pemerintah Hindia Belanda. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera, Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne karena tidak mampu menangkap Pitung.
Ibu Kandung Pitung berasal dari Rawa Bening. Sedangkan ayahnya berasal dari kampung Cikoneng, Tangerang. Pitung diperkirakan lahir sekitar tahun 1866 di Tangerang. Salah seorang petugas situs sejarah rumah Si Pitung menceritakan, saat usia delapan tahun ayah dan ibu si Pitung berpisah.
"Karena ibunya tidak ingin dijadikan istri tua oleh ayahnya, mereka berdua pun akhirnya kembali ke kampung Rawa Bening," ungkap salah satu petugas retribusi yang enggan disebutkan namanya saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (24/5).
Saat menginjak usia 14 tahun, Pitung lebih banyak menghabiskan waktu di pasar Kebayoran, menjual kambing. Di tengah perjalanan saat kembali dari pasar usai menjual kambing, Pitung dirampok. uang hasil menjual kambing ludes tak bersisa. Dia tak berani pulang karena takut dimarahi ibu dan kakeknya. Sejak saat itu Pitung mengembara dengan membawa setumpuk dendam atas nama penindasan.
"Dalam pengembaraannya itu, sampailah dia di kampung Kemayoran dan berkenalan dengan guru Na'ipin, seorang ahli silat yang terkenal pada saat itu. Sekitar enam tahun Pitung berguru pada Na'ipin," lanjutnya.
Bang Pitung akhirnya terkenal sebagai seorang perampok. Namun, dia tidak pernah menikmati hasil rampokannya. Sebab dia dikenal sebagai seorang penganut tarekat yang berkeyakinan bahwa merampas harta musuh untuk kepentingan perjuangan adalah halal atau yang disebut dengan istilah fa'ie. Ketika tokoh petani pemberontak Belanda kesulitan dana, Pitung membantu mencari solusinya. Apalagi saat itu pelukis Raden Saleh yang selama ini jadi penyandang dana, disita kekayaannya.
Bang Pitung tidak pernah beristri. Sebagai buronan Belanda, dia tidak menetap di suatu tempat. Seluruh hasil rampokan Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Bukan untuk dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil. Pitung sangat sulit ditangkap karena jaringannya yang sangat luas. Termasuk Haji Safiudin di kampung Marunda, salah satu korbannya yang akhirnya menjadi mitra. Si Pitung sering berkunjung ke rumah Haji Safiudin di Marunda yang kemudian terkenal sebagai rumah Si Pitung.
"Ini kan bukan rumah Pitung sebenernya, rumah ini tadinya punya orang sini namanya Haji Safiudin. Ada dua versi cerita yang beredar, ada cerita Si Pitung ke sini sebagai kunjungan temannya (Haji Sadiudin), ada yang kebetulan disini dia ngerampok, kan dia tuan tanah disini. Napak tilasnya dia pernah ke sini, ini bisa jadi rumah Si Pitung karena cerita rakyat," tutupnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya