Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Makam fiktif muncul di TPU Johar agar tak ada gubuk dan empang ikan

Makam fiktif muncul di TPU Johar agar tak ada gubuk dan empang ikan Makam Fiktif Dibongkar. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Baru-baru ini Pemprov DKI Jakarta menemukan banyak makam fiktif di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU). Makam fiktif yang dimaksud, ada yang memang dipesan ahli waris, ada juga yang sengaja dibuat seperti makam oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menunjukkan seolah-olah makam tak tersedia.

Salah satu yang ditemukan yaitu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kawi-Kawi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta membongkar enam buah makam fiktif di TPU tersebut.

Kepala TPU Kawi-Kawi, Rizki Septian Hadi mengatakan, enam makam yang ditemukan oleh Pekerja Harian Lepas (PHL) bukan makam fiktif yang dipesan oleh seseorang yang masih hidup.

"Itu kan bukan di booking-an tapi itu copy-an. Ini yang di saya (TPU Kawi-kawi)," kata Rizki ketika ditemui merdeka.com di TPU Kawi-kawi Jakarta Pusat, Selasa (26/7).

Rizki menceritakan awalnya enam makam fiktif tersebut dibuat agar tidak ada gubuk-gubuk di kawasan makam. Tidak hanya itu, lahan tersebut tidak terawat dan kawasan banjir.

"Dulu saya denger dari PLH, zaman dulunya itu genangan, itu makam lama, enggak keurus terus dibikin empang ikan, gubuk-gubuk. Terus diurug supaya enggak timbul lagi gubuk-gubuk, dibikin makam-makam seperti itu," cerita Rizki.

Dia mengatakan penemuan makan fiktif di TPU Kawi-kawi berawal dari pengelola yang mencari lahan kosong untuk pemakaman baru. PHL kemudian menemukan dua batu nisan yang identitasnya sama.

"Kata PHL saya, 'Pakai di sini saja Pak', 'Loh kok dipakai?', katanya sama namanya, di blad sana juga ada. Dia tahu makam almarhum yang asli. Itu awalnya dari situ," jelas Rizki.

Kemudian, lanjut Rizki, makam yang dibongkar tersebut berdekatan satu sama lain. Tetapi dia tidak mengetahui apakah ada calo untuk memesan makam fiktif di TTPU Kawi-Kawi.

"Selama 2 bulan ini saya tidak mengetahui karena saya baru menjabat jadi kepala TTPU ini," cerita dia.

Menurutnya di TTPU Kawi-kawi jika ada yang meninggal prosedur pembayarannya pun tidak melalui dirinya ataupun petugas di TTPU. Prosedurnya menurut Rizki sangat mudah dan tidak perlu membayar kepada petugas di TTPU setempat.

"Sekarang kan sudah online dan bayarnya juga enggak kesini (TTPU Kawi-kawi) keluarganya juga harus melalu Bank DKI," Tutup dia.

Ditemui ditempat terpisah, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Djafar Muchlisin menjelaskan makam fiktif ialah makam yang antara bentuk fisik dan data administrasinya tidak sesuai.

Pada penemuan sejauh ini, makam fiktif tersebut terdiri dari makam kedaluwarsa atau yang retribusinya tidak lagi diperpanjang ahli waris. Makam itu kemudian dipesan pihak lain yang belum meninggal.

Padahal, Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pemakaman telah melarang pemesanan makam untuk pihak yang belum meninggal.

"Di makam yang pesanan-pesan seperti kemarin saya gali di Karet Bivak, Pasar Baru, di nisannya cuma inisial bayi, itu ada tiga. Jadi namanya bayi. Jelas fiktif sudah saya tertibkan," kata Kadis Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Djafar Muchlisin.

Menurutnya, para mafia yang menjajakan makam fiktif tersebut memiliki banyak modus. Salah satunya ditemukan makam kembar di TTPU Kawi-kawi tidak hanya itu menurutnya terdapat seorang calo makam mengaku pada ahli warga yang datang ke TPU sudah tak ada lahan tersedia.

Tetapi, bisa diupayakan dengan menggunakan syarat. Djafar bercerita ahli waris biasanya dipalak dengan tarif Rp 3 juta hingga Rp 7 juta.

"Seperti yang banyak terjadi ada satu keluarga yang kelihatan mencari petak, nah kemudian dicegat di jalan. Di situlah ditawarkan," cerita Djafar.

Menurut Djafar kasus makam fiktif dilakukan sudah sejak lama yang dilakukan dari petugas level bawah hingga pejabat dinas makam.

"Dalam struktur makam itu, kita ada pengawas, ada PHL, dan ada yang perawat makam yang masyarakat cari nafkah," jelasnya.

Dari pengecekan sejumlah TPU di Jakarta Pusat, Timur dan Barat, ditemukan 203 makam fiktif, di mana 32 makam telah dibongkar. Menurutnya yang mengakibatkan lahan berkurang karena maraknya mafia yang bermain di lahan TTPU.

"Sebenarnya tidak berkurang, artinya bahwa kita di lapangan menemukan yang fiktif inilah yang mengurangi. Kedepan 230 ini bisa kita lakukan penertiban, sehingg masih tersedia lahan-lahan," jelas Djafar. (mdk/sho)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP