Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jeritan hati nelayan kerang tolak reklamasi, 5 bulan merugi

Jeritan hati nelayan kerang tolak reklamasi, 5 bulan merugi Pandi, nelayan tolak reklamasi. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Proyek reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta membuat nelayan pesisir menjerit. Mereka bingung karena proyek tersebut membuat tangkapan menjadi sedikit alhasil penghasilan jadi berkurang.

Seperti cerita Pandi (61), salah satu nelayan asal Indramayu. Dia sudah 12 tahun bermukim di perkampungan nelayan yang berada di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Dia mengaku sudah 5 bulan terakhir tidak memiliki pendapatan sama sekali, lantaran reklamasi pulau tersebut.

"Saya juga bingung, pendapatan makin berkurang. Saya ada anak buah sekitar 40 orang. Setelah adanya reklamasi pulau itu, 5 bulan terakhir saya merugi, saya sehari-hari ternak kerang hijau," ungkap Pandi di kediamannya Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (15/4).

Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Sebagai orang kecil dia yakin suaranya tak akan mungkin didengar para pemangku jabatan yang diyakininya lebih berpihak pada swasta.

"Ya kalau rugi terus mah mending pulang kampung. Walaupun katanya Ahok mau kasih rusun di Pulau Seribu dan budidaya kerapu, mending pulang kampung, susah juga harus adaptasi," ucap Pandi.

Reklamasi teluk Jakarta dinilai mengabaikan keresahan masyarakat dalam hal ini para nelayan. Tidak hanya itu, aspek lingkungan juga disebut-sebut akan berdampak secara signifikan jika reklamasi dilakukan.

Untuk diketahui, polemik reklamasi mulai muncul setelah KPK menetapkan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi dan Presiden Direktur PT Agung Podomoro, Ariesman Widjaja, sebagai tersangka kasus suap dalam pembahasan raperda zonasi tentang reklamasi.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP