DPRD: Tracing Covid-19 di DKI Jakarta Lemah
Merdeka.com - Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak menyoroti tes dan pelacakan penularan Covid-19 oleh Pemerintah Provinsi. Menurutnya, prinsip uji dan pelacakan atau disebut dengan istilah 3 T, testing, tracing, dan treatment, yang dilakukan Pemprov di tengah lonjakan kasus tidak terukur dan transparan.
"Yang masalah adalah 3T, testing kita tidak tahu akurasinya berapa karena tidak pernah dievaluasi. Yang lebih jelek lagi adalah tracing. Data terakhir bulan Mei adalah 1:3, paling baik 1:33, kalaupun dapat 1:10 sudah bagus," jelas Gilbert kepada merdeka.com, Senin (28/12).
Politikus sekaligus epidemiolog ini menilai program tracing yang kerap disampaikan eksekutif tidak terlihat dampaknya. Dia menilai tracing justru terlihat seolah tidak jalan.
Pemprov DKI menegaskan kapasitas testing Jakarta melampaui target World Health Organization (WHO), namun Gilbert berpandangan hal itu tidak akan berpengaruh jika kualitas tracing tidak memadai. Terlebih lagi, dalam rangkaian 3T, kualitas tracing lebih penting dalam upaya pengendalian pandemi Covid-19.
"Testing buat apa kalau tidak diikuti tracing? Karena maksudnya kan untuk tracing. Kalau 2000 kasus, apakah ada 20.000 yg diperiksa? Kemampuan lab tidak mencapai, jadi jangan hanya melebihi WHO. Tracing lebih penting," tandasnya.
Mengutip data dari corona.jakarta.go.id, jumlah orang yang dites secara Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Minggu (27/12) sebanyak 10.612 orang, dan 12.424 spesimen.
Kemudian, angka penambahan kasus Covid di DKI mencapai 1.997 kasus. Sehingga akumulasi kasus di Jakarta sebanyak 175.926 kasus. Sementara kasus aktif, pasien Covid-19 yang masih menjalani isolasi dan perawatan, sebanyak itu 14.107 kasus.
(mdk/ray)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya