Curahan hati pasukan oranye, berjibaku bersihkan sampah Jakarta
Merdeka.com - Sejak beberapa bulan terakhir, wajah Kota Jakarta tak hanya dihiasi kemacetan dan suara deru mesin kendaraan bermotor. Sejumlah orang berseragam oranye menyisir jalan-jalan ibu kota, lengkap dengan perkakas dan alat berat. Tugas mereka cuma satu, tapi cukup berat. Mempercantik wajah Jakarta dari sampah yang berserakan.
Saat pagi menjelang, Afrizal (35) bergegas keluar rumah dan langsung bergabung dengan beberapa rekannya. Seragamnya mencolok, dari atas kepala sampai kaki berwarna oranye. Sapu lidi bergagang panjang dan serokan jadi senjata andalannya. Plastik hitam berukuran besar tak lupa dibawa. Mereka mulai berjalan menyisir Jalan Soepomo, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.
Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak Juli 2015. Dia harus bangun lebih pagi dari biasanya, mengingat tanggung jawabnya sekarang sebagai koordinator petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau pasukan oranye sapu bersih Jakarta. Dia harus memastikan 'wilayah kekuasaannya' sedap dipandang.
Afrizal dan pasukannya tidak hanya mengumpulkan sampah yang berserakan di jalan, tapi juga membersihkan sampah yang menghalangi laju air di selokan. Tidak semua orang mau bekerja 'dekat' dengan sampah yang terlanjur dicap kotor. Karena itu Afrizal menganggap pekerjaan yang dilakoninya ini sebagai tugas mulia. Afrizal dibantu 48 orang petugas PPSU. Mereka bertugas membersihkan sampah di empat titik yang ada di wilayah Kecamatan Tebet.
"Nggak gampang jadi petugas PPSU. Nggak cuma tenaga tapi pikiran dan hati juga dipakai," ujar Afrizal saat berbincang dengan merdeka.com di sela-sela waktu istirahatnya, kemarin.
Butuh kerja keras menyulap Jakarta menjadi kota bersih dari sampah. Tidak jarang petugas PPSU harus rela terjun ke selokan memungut sampah. Bau tidak sedap jadi 'sarapan' pagi. Tidak hanya kerja keras, pekerjaannya juga menuntut kesabaran dan kebesaran hati.
Afrizal menceritakan sejumlah pengalaman tidak menyenangkan ketika menjalankan misi mempercantik Jakarta. Saat membersihkan sampah di sepanjang Jalan Soepomo, Afrizal kerap mendapat perlakuan tidak terpuji dari pengguna jalan. Mulai dari sapu yang dilindas pengendara motor, hingga sampah yang sudah dikumpulkan ditendang oleh pengendara motor yang melintasi trotoar.
"Waktu itu saya jujur saja emosi, tapi ya sudahlah gimana lagi, saya bersihin lagi itu sampahnya" kenangnya.
Dari pengalamannya itu, terselip harapan warga Jakarta semakin sadar dan ikut ambil bagian serta turun tangan menjaga lingkungan. Tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan yang kerap dipandang sebelah mata.
"Terutama rumah makan dan perkantoran ya. kami sering menemukan penumpukan lumpur serta minyak bekas masak dan sampah plastik, kan itu sebab utama terjadi banjir" tambahnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya