Cerita Lebaran Korban Kebakaran Pasar Gembrong: Tak Ada Kue Nastar, cuma Ada Arang
Merdeka.com - Tak ada tumpukan toples nastar, kue-kue kering maupun cemilan yang disuguhkan keluarga Sugianto, penampakan ini sungguh berbeda dari momen Hari Raya Idulfitri di tahun-tahun sebelumnya.
Pemandangan ini terjadi, usai rumah petakan Sugianto bersama 400 rumah lainnya turut menjadi mangsa si Jago Merah yang melalap kawasan Pasar Gembrong pada Minggu 24 April 2022.
"Berbeda sekali, udah gak ada nastar. Cuman arang aja sama puing-puing bangunan yang bisa dilihat," ucap Tri anak tertua Sugianto, ketika ditemui Senin (2/ 6).
Meskipun di lapak tenda warung kaki limanya, tampak toples kue nastar tersaji, namun itu diakui Tri rasanya tak akan semegah pada lebaran tahun sebelumnya.
Pasalnya, lebaran tahun ini sangat kontras di mana mereka hanya berkumpul di bawah terpal warung kaki lima milik ibunya tepat di pinggir trotoar Pasar Gembrong. Bersama ayah, dan adiknya, Tri mengingat momen bercengkrama mereka.
"Biasanya kita saling berbaris maaf-maafan keliling ketemu warga. Tapi sekarang berbeda sudah suasananya," katanya.
Bahkan sambil melihat bangunan rumahnya, Tri mengaku jika musibah kebakaran yang menimpa keluarganya ini sangat berat hingga membuat mereka harus angkat kaki dari rumah dan tinggal sementara waktu di kontrakan.
Harta Lenyap dalam 15 Menit
Pasalnya, apa yang dialaminya ini tidak pernah terbayang sebelumnya dalam hitungan 15 menit harta benda, rumah, surat-surat, bahkan uang yang disiapkan untuk mudik lebaran ini pun sampai lenyap seketika.
"Cuman yang melekat di badan aja ini. Tidak ada yang tersisa pokoknya semuanya hangus," tuturnya.
Dia pun sempat menceritakan detik-detik ketika api mulai menyala di salah satu rumah yang berjarak sekitar 15 meter. Dimana Tri dan Sugianto saat mengetahui ada kebakaran langsung bergerak membantu warga memadamkan api.
Tak ada yang tahu jelas penyebab munculnya sumber api, Tri mengatakan jika dari beberapa warga ada yang menyebut akibat lelehan teko ada pula yang menyebut berasal dari korsleting listrik, hingga akhirnya api membesar.
Tapi apa daya, upaya warga memadamkan api dengan swadaya tak membuah hasil. Kobaran makin membesar hingga merambat rumah demi rumah. Semua terjadi begitu cepat, sampai kata Tri, Sugianto sempat pingsan akibat syok.
"Bapak tiba-tiba pingsan. Syok dia ngeliat api makin besar. Sampe di bawa ambulance," tuturnya.
Menurut Tri, tak penting jika memperdebatkan soal penyebab sumber api. Karena, hal itu tidak mungkin bisa mengembalikan rumahnya yang kini hangus, hanya sisa-sisa tembok tanpa atap dan arang-arang kayu menghitam.
"Kalau diingat-ingat udah kaga kebanyang dapat musibah kaya gini, pas mau lebaran," katanya.
Perbincangan bersama Tri pun harus disudahi, ketika dirinya bersiap untuk berangkat kerja di salah satu perusahaan. Sebelum bekerja tak lupa, Tri turut pamit kepada Sugianto dan ibunya yang tengah menjaga warung kopi kaki lima.
Gagal Mudik
Perbincangan berlanjut ke Sugianto yang sempat merenungkan kejadian ini ketikatakbir berkumandang. Dia hanya bisa meratapi puing-puing bekas tempat tinggalnya di petakan Pasar Gembrong. Harta bendanya musnah dilahap si jago merah.
Kebakaran itu terjadi sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri, tepatnya 24 April 2022 lalu. Api itu tak hanya membakar tempat tinggalnya, tetapi juga mimpi untuk kembali ke kampung halaman di Pati, Jawa Tengah, pun sirna.
"Harusnya mudik saya tahun ini, tapi bagaimana kondisinya begini kan. Padahal udah seneng pas denger pengumuman boleh mudik sama Pak Jokowi," kata Sugianto ketika ditemui, Senin (2/5).
Kesehariannya, dia bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara istrinya membantu dengan berjualan kopi. Sugianto masih belum percaya jika kebakaran itu terjadi saat dirinya tak ada di rumah.
Sambil menghisap sebatang rokok, Sugianto menceritakan kala dirinya terperangah ketika melihat rumah kontrakannya dikepung kobaran api. Semua hasil keringatnya yang tersimpan dalam rumah itu hangus menjadi debu. Padahal setelah dua tahun pandemi, dia berencana merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
"Tapi ya mau gimana? Hangus semua," ungkapnya lesu.
Walaupun terkejut, dia sempat berusaha memadamkan api. Apa daya air yang dibawanya dengan besarnya api tak sebanding. Akhirnya dia pingsan dan dibawa ke ambulans oleh warga.
"Saat memadamkan api, saya sempat pingsan, bukan karena kebanyakan menghirup asap, tapi saya kepikiran uang mudik," terangnya.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya