Berharap Anies-Sandi kembalikan fungsi Blok G Tanah Abang jadi lapak para PKL
Merdeka.com - Jalan raya yang seharusnya menjadi akses pengendara di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat kini ditutup dari pukul 08.00-18.00 Wib oleh Pemprov DKI Jakarta. Jalan itu kemudian dimanfaatkan untuk lapak-lapak PKL.
Niat awal kebijakan itu agar tak ada lagi PKL di trotoar. Kendati kebijakan telah diberlakukan, masih saja ada PKL yang memanfaatkan trotoar untuk berjualan di sekitar Tanah Abang.
Kebijakan baru Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno itu juga dinilai semakin berpengaruh terhadap penurunan pendapatan pedagang di Blok G. Hal itu diakui pedagang pakaian, Sri Hartini.
Saat ditemui pada Jumat (29/12) sore, ia mengatakan pakaian yang laku baru beberapa lembar. "Sudah drastis pengaruhnya dengan adanya PKL di sana (Jalan Jatibaru Raya). Saya enggak setuju soalnya itu bukan pasar," keluhnya.
Jalan, tegas Sri, harus difungsikan sebagaimana mestinya. "Seharusnya jalan ya buat kendaraan, jangan buat dagang," cetusnya.
Sebelum ada PKL di Jalan Jatibaru Raya, biasanya dalam sehari ia bisa mengantongi Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. "Sepi-sepinya ya bisa Rp 2 juta sehari. Sekarang hanya enam potong yang laris," sebutnya.
Ia pun berharap Anies-Sandi mengubah kebijakannya menjadikan jalan raya untuk PKL. Karena jika terus begitu, pedagang di Blok G akan merasakan dampaknya. Sementara mereka diwajibkan membayar uang sewa maupun servis charge tiap bulan.
Sri mengatakan toko yang ia tempati telah menjadi milik sendiri. Ia hanya berkewajiban membayar servis charge Rp 1 juta per bulan. "Bayar servis charge Rp 1 juta sebulan. Itu untuk biaya pasar. Kebersihan paling bayar tiap Sabtu. Jumlahnya enggak ditentuin seikhlasnya kita aja," ujarnya
Ia berharap PKl di jalan itu dibawa ke Blok G. Karena masih ada lantai yang kosong. "Harapannya Anies-Sandi tiru kebijakan Jokowi. Dinaikin lagi PKL-nya. Kan msh banyak yang kosong lantai dua dan tiga. Di lantai satu ini, di belakang-belakang banyak yang kosong. Yang depan sini aja yang full karena masih bertahan," jelasnya.
Keluhan penurunan pendapatan juga disampaikan pedagang sepatu H Tanu. Omzetnya menurun sampai 50 persen setelah ada PKL di Jalan Jatibaru Raya. Biasanya ia bisa mengantongi Rp 4 juta sehari tapi kini hanya sekitar Rp 2 juta.
"Kerasa banget perbedaannya," ujarnya.
Menurutnya banyak pembeli yang kemudian enggan ke Blok G dan lebih memilih belanja di PKL yang ada di jalan itu. "Kalau yang mau belanja sepatu, di situ juta ada yang jualan. Yang enggak sengaja belanja jadi pada belanja," kata dia.
Tanu mengaku sangat tak setuju dengan kebijakan Anies-Sandi itu. Ia heran ada jalan yang malah digunakan untuk PKL. "Masa jalan dipakai dagang. Enggak ada tuh jalan dipakai dagang. Kecuali ini dibongkar dan enggak ada tempat ya boleh saja untuk sementara. Tapi kalau ada tempat kosong terus jalan buat dagang itu kan enggak benar," sesalnya.
Ia yakin jika tak ada yang jualan di jalan itu, pembeli pasti akan datang ke Blok G. "Kalau enggk ada pedagang di sana sama sekali orang pasti naik kok belanja. Selama ada kaki lima ya enggak akan ada yang naik," ujarnya.
Tanu membayar uang sewa atau disebutnya uang tempelan sebesar Rp 270 ribu per bulan. Sedangkan uang listrik ia biasa menghabiskan Rp 120 ribu per bulan. "Ada uang ngepel. Itu sudah digaji tapi kita ngasih uang pribadi paling ngasih Rp 5 ribu seminggu. Enggak ngasih juga enggak apa-apa, itu kita pribadi aja," kata dia.
Tanu juga berharap Anies-Sandi meniru kebijakan Jokowi-Ahok saat menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk menghidupkan Blok G. Dulu Jokowi membuat tangga untuk mempermudah akses pembeli. Termasuk juga membuat berbagai acara di Blok G untuk menarik pengunjung.
Tanu menceritakan Blok G selesai dibangun pada tahun 1987 untuk menampung PKL di jalan. "Dulu kaki kima di jalan semua ditampung di sini. Dulu sebelumnya di sini terminal," kisahnya.
Blok yang pertama dibangun ialah Blok A kemudian Blok G yang awalnya bernama Pasar Kebon Jati. "Dulu Pasar Kebon Jati. Setelah itu dinamakan Blok G. Setelah itu Blok B dibangun lagi dan kemudian Blok F," tuturnya.
Ia sendiri mulai berjualan di Tanah Abang sejak 1980. Setelah bangunan Blok G rampung pada 1987, ia pindah. "Dulu belum ada lampu, masih pakai petromarks. Dan tahun 1988 baru ada lampu," tutupnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya