Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Beragam cara Anies-Sandi hindari kemacetan ibu kota

Beragam cara Anies-Sandi hindari kemacetan ibu kota Anies Baswedan dan isteri di kantor KPU. ©2017 Merdeka.com/Anisyah Yusepa

Merdeka.com - Anies Baswedan dan Sandiaga Uno resmi diputuskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta sebagai gubernur dan wakil gubernur. Agenda kemenangan padat menanti mereka. Demi ketepatan waktu, cara diambil bahkan harus melanggar lalu lintas. Alasannya utamanya kemacetan ibu kota.

Seperti dilakukan rombongan Wakil Gubernur DKI terpilih Sandiaga Uno. Dia melintas jalur bus Transjakarta atau busway, ketika ingin merayakan kemenangannya di Posko Cicurug, Jakarta Pusat. Padahal Sandiaga baru saja resmi diumumkan menjadi wakil gubernur DKI.

Mobil rombongan Sandiaga dengan pengawalan itu juga menerobos lampu lalu lintas berwarna merah. Namun, dia berdalih tidak tahu bahwa rombongannya melanggar lalu lintas. "Tadi masuk jalur busway? Enggak bisa ini, enggak boleh, aku enggak mau, tolong diingatkan," kata Sandiaga, Jumat kemarin.

Pelanggaran lalu lintas dibenarkan pengawal rombongan Sandiaga. Dengan alasan terburu-buru, masuk jalur Transjakarta terpaksa jadi pilihan. "Ngejar waktu tadi buru-buru," kata Brigadir Ragowo.

Pelanggaran lalu lintas juga pernah dilakukan Anies Baswedan. Sama seperti Sandiaga, rombongannya masuk jalur bus Transjakarta. Ketika itu Anies tengah dikejar waktu untuk mengikuti debat Pilgub DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada 13 Januari 2017 lalu.

Pantauan merdeka.com, rombongan berangkat sejak pukul 18.00 WIB. Semula rombongan berangkat dari Jalan Lebak Bulus Dalam IV Cilandak, Jakarta Selatan hendak lewat Jalan Kapten Tendean. Namun, rombongan langsung berputar arah lewat komplek SCBD untuk menghindari kemacetan.

Sayangnya, meski rombongan telah dikawal anggota kepolisian, kemacetan tak bisa terhindarkan. Beberapa kali anggota kepolisian berupaya untuk membelah kemacetan dengan sistem contra flow. Namun hal itu tak juga menjadi solusi.

Klakson mobil terus dibunyikan untuk memperingatkan kendaraan lain. Hal ini langsung menjadi pusat perhatian bagi kendaraan lainnya. Akhirnya rombongan menggunakan jalur Transjakarta di Jalan Gatot Subroto untuk menembus kemacetan Jakarta.

Anies juga pernah melakukan cara lain demi mengejar waktu. Ketika itu dia ingin bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) di balai kota, Jakarta. Pertemuan dijadwalkan sekitar pukul 7.45 WIB pagi. Alhasil, Anies dipinjamkan helikopter pengusaha Erwin Aksa.

Anies menjelaskan, keputusan itu diambil agar tak terlambat menemui Ahok lantaran harus menjalani persidangan sebagai terdakwa kasus penistaan agama. "Saya menghormati waktu yang disediakan oleh Pak Basuki yaitu jam 7.45 di Balai Kota, padahal saya ada kegiatan lain sebelumnya. Kami tidak bisa terlambat karena jam 8.15 pagi beliau sudah harus berangkat dari Balai Kota ke pengadilan untuk menghadiri persidangan," jelas Anies.

Anies menjelaskan, sebelum menemui Ahok, dia memiliki agenda internal tak bisa dipindahkan jadwal dan lokasinya. Untuk menghindari keterlambatan menemui Ahok, Anies dipinjamkan helikopter berwarna putih milik perusahaan Bosowa dari Erwin Aksa.

"Sehingga Pak Erwin Aksa meminjamkan helikopter milik perusahaannya agar tetap bisa menemui Pak Basuki sesuai waktu yang disediakan beliau," terang Anies "Bahkan itu pun sampai di Balai Kota sudah mepet, hampir jam 7.45. Yang terpenting pertemuan dengan Pak Basuki tidak terlambat di yang sempit itu," sambung Anies.

Anies menaiki helikopter dari rooftop Rumah Sakit Siloam Jalan TB Simatupang menuju rooftop Hotel Aryaduta. Setelah itu dari Aryaduta, bersama Erwin, Anies menaiki Toyota Alphard menuju balai kota.

Anies berharap hal ini tidak dibesar-besarkan sehingga memperkeruh suasana. "Ini dalam rangka menghormati waktu Pak Basuki," terangnya.

(mdk/ang)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP