Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

BBM naik, sopir Metromini khawatir penumpang beralih ke busway

BBM naik, sopir Metromini khawatir penumpang beralih ke busway Busway Baru. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam kurun waktu dekat ini membuat kalangan masyarakat menjadi resah. Terutama bagi para sopir angkutan umum, kenaikan BBM dinilai hanya untuk menyengsarakan rakyat kecil saja.

Hasibuan (40), salah satu sopir Metromini 506 jurusan Kampung Melayu-Pondok Kopi mengatakan, jika nantinya BBM naik, pendapatan dirinya akan makin berkurang. Hal ini disebabkan tarif angkutan umum otomatis akan kembali naik.

"Waduh, saya enggak tahu mau bilang apa. Kalo ongkos naik sudah pasti penumpang beralih ke busway. Karena saya yakin nanti enggak akan jauh berbeda sama busway," ujarnya kepada merdeka.com di Terminal Kampung Melayu, Selasa (18/6).

Selain Hasibuan, sopir angkutan lainnya Lambok Tambunan, mengaku kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah dinilai hanya kepentingan politik semata. Hal ini dikarenakan karena masa pemerintahan SBY yang sisa satu tahun ini telah gagal menyejahterakan rakyat.

"Yang jelas sudah gagal SBY ini, sekarang lihat saja kenapa dia mau naikin BBM pas mau 2014. Ini kepentingan politik jelang pemilu nanti," cetus sopir mikrolet M31 jurusan Senen-Kampung Melayu ini.

Tidak hanya para sopir angkutan umum yang meresahkan kenaikan harga BBM. Salah satu penumpang di Kampung Melayu pun mengaku tidak setuju dengan kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

"Kalau bisa jangan dinaikkan lah, kasihan rakyat kecil. Karena BBM itu kan sumber segalanya. Kalo naik semua ikut naik," ujarnya.

Kepastian kenaikan BBM dipastikan setelah sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati RAPBN-P 2013 menjadi UU APBN 2013 yang di dalamnya terdapat skema kenaikan harga BBM. (mdk/bal)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP