Ahok tak pandang bulu dari gubuk reot sampai mal ilegal akan disikat
Merdeka.com - Berulang kali sisa anggaran Pemprov DKI Jakarta meningkat. Salah satu penyebab anggaran banyak tersisa karena sejumlah proyek tak berjalan maksimal.
Salah satu proyek yang sering terkendala adalah pembebasan lahan yang ditempati bangunan ilegal. Panjangnya proses mediasi membuat proyek pembebasan lahan tak bisa berjalan sempurna.
Alhasil, anggaran yang dipersiapkan jadi tak terpakai.
Tak mau terus demikian, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, memilih bersikap lebih tegas. Siapa pun yang menempati lahan secara ilegal bakal dia sikat.
Tak peduli itu pemukiman warga, bahkan tempat ibadah bila melanggar izin pembangunan akan dia bongkar. Hal itu bukan ucapan semata, Ahok, sapaannya memastikan hal itu di hari kedua kerja usai libur Lebaran.
Kemarin, Satpol PP DKI Jakarta, membongkar bangunan ilegal yang dijadikan tempat tinggal di kolong Tol Wiyoto Wiyono.
"Dari 100 bangli ini, 30 di antaranya membongkar bangunannya sendiri. Sehingga ada 70 bangli yang terpaksa harus dibongkar anggota satpol PP," kata Camat Penjaringan, Jakarta Utara.
Tak hanya itu, di hari yang sama DKI akhirnya menyegel resmi mal Tebet Green di Jl Gatot Subroto karena tak memiliki sertifikat laik fungsi (LSF). DKI sudah memberi kelonggaran waktu setelah penyegelan pertama, tapi sayang pengelola tak melakukan pengurusan.
"Pak Ahok udah ngomong, katanya ditutup permanen. Dari pada saya luntang lantung enggak jelas mendingan cari kerja lagi, ya kita mah kuli mas. Kita sudah tau kalau gedung ini akan ditutup. Sebelum puasa udah ada surat pemberitahuan, Senin atau Selasa kemarin dikirim lagi. Tapi nggak tahu bakal sekarang ditutupnya," jelas seorang pegawai.
Penyegelan dan proses pengosongan gedung dipantau langsung oleh ratusan TNI. Gedung harus benar-benar kosong pada Sabtu besok. Kegalakan Ahok menertibkan bangunan ilegal makin terlihat ketika dia berniat merobohkan mal dan sebuah gereja di Jatinegara.
"Saya sudah kasih tahu wali kota, gereja itu enggak berizin. Kalau sudah lama, ya dibuat izinnya. Kalau dia enggak buat, kan jadi melanggar, mesti tetap kita bongkar," ujar Ahok.
Ahok menegaskan tindakannya itu merupakan murni dalam konteks menegakkan aturan, dan tidak mendapat intervensi pihak manapun.
"Kami tidak mau jika (keputusan) dibongkar atau tidak itu karena dipengaruhi oleh tekanan orang. Tidak ada urusan, ini negara ada konstitusi, ada aturan," tegas Ahok.
Tak hanya itu, dia tak akan tinggal diam melihat pengembang yang seenaknya membangun mal tanpa izin seperti mal Tebet Green. Tindakan ini untuk membuktikan bahwa dirinya bukan tebang pilih.
"Sekali-sekali satu mal kita robohin, kenapa sih. Supaya orang takut. Jangan cuma kawasan kumuh aja kita robohin. Sekali-sekali satu mal kita robohin," ujarnya.
Ahok menyebut betapa pentingnya SLF tersebut, sebagai salah satu standar prosedur ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di bangunan tersebut, seperti misalnya kebakaran. Hal itu hanya dimaksudkan, agar para pengguna bangunan mal itu merasa tenang dalam menjalankan aktivitas mereka di dalamnya, karena kelayakan gedung itu sudah diverifikasi.
"Kita mah baik-baik aja. Justru kita suka nawarin untuk ngurus izin dan ngebantuin mereka. Kalau kamu tanya, 'Terus para pekerjanya gimana? Ya udah, perbaiki dong suratnya," ujar Ahok.
"Kami juga akan bantu kok proses perizinannya di PTSP. Tapi dia juga kurang ajar kan, enggak mau beresin. Mungkin dikira kita enggak berani," pungkasnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya