Ahok minta Jokowi contek Belanda soal atasi banjir

    Reporter : Nurul Julaikah | Senin, 24 Desember 2012 21:12




    Ahok minta Jokowi contek Belanda soal atasi banjir
    Banjir kiriman genangi Kampung Pulo. ©2012 Merdeka.com/Imam Buhori

    Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menawarkan solusi kepada Gubernur Joko Widodo untuk menangani masalah banjir. Dia menyarankan Joko Widodo menyontek gaya kerja buruh di zaman Belanda yang diupah untuk membersihkan kali.

    "Jangka pendek kita lakukan model Belanda. Saya lagi diskusi sama pak gubernur untuk melibatkan orang per kilometer (bersihkan kali)," kata pria yang akrab disapa Ahok itu saat ditemui wartawan di kediamannya kawasan Pantai Mutiara Jakarta Utara, Senin (24/12).

    Setiap buruh nantinya beri gaji. Untuk panjang lokasi yang dibersihkan sesuai dengan kesepakatan.

    "Kalau zaman Belanda dulu satu orang ngurusin 6 kilometer. Minimal gaji UMP lah lebih murah," katanya.

    Ahok sadar setiap tahunnya permukaan tanah di Jakarta semakin turun sedangkan permukaan air terus bertambah. Ditambah lagi sampah yang memenuhi sungai dan selokan. Maka dari itu, solusi jangka pendek yang paling tepat saat ini adalah mengeruk sampah yang mengendap di dasar kali.

    "Jadi genangan Jakarta terus tambah. Maka itu harus libatkan orang kecamatan dan kelurahan, jangan cuma bayar orang kebersihan taman, PU. Tapi bayarin empat sampai lima orang (bantu)," jelasnya.

    Ahok menambahkan, sebenarnya pekerjaan pengerukan kali sudah diserahkan ke kontraktor. Tapi hasilnya tidak memuaskan.

    "Sudah berapa ratus milliar hilang, tapi Jakara banjir enggak terhindar lagi," keluh Ahok.

    Saat ini, kata Ahok, pelebaran kali sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Oleh karena itulah pemerintah harus merelokasi mereka agar terhindar dari luapan air sungai.

    "Makanya harus beli tanah, tidak ada pilihan," jelasnya.

    Cara lainnya, pemerintah akan memperbanyak pembangunan polder-polder, di kawasan Kelapa Gading, Pluit, dan Tanjung Priok. Sebab, waduk yang disiapkan di daerah itu nyatanya sudah tak mampu menampung debit air dalam jumlah yang besar

    "Dulu luasnya hampir 90 hektar, sekarang tinggal 50 an atau pun Waduk Melati tiba-tiba jadi mal. Makanya saya nggak heran kawasan Thamrin Sudirman tenggelam, padahal itu dulu daerah resapan air," jelasnya.

    [lia]


    JANGAN LEWATKAN BERITA
    Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

    Let's be smart, read the news in a new way.
    Tutup
    Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
    Kirim ke

    Free Content

    • URL Blog

    • Contoh : merdeka.wordpress.com

    • Email

    • Password


    saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






    Komentar Anda


    Smart people share this
    Back to the top


    Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
    TOP 10 NEWS
    LATEST UPDATE
  • Welcome back, Leeteuk resmi akhiri wajib militer!
  • Cleverley siap eksploitasi kelemahan Vidic
  • Tabrakan banana boat, 2 wisatawan Pantai Tanjung Karang tewas
  • Jokowi tak mau asal pilih menteri ESDM dan Pertanian
  • Ucapan selamat Idul Fitri Obama kepada kaum muslim jadi bumerang
  • Jokowi: Golkar kok dikaitkan dengan lumpur, beda dong
  • Hamil enam bulan, Duma Riris doyan ngemil beras mentah
  • Biasa Lebaran di Mekkah, kali ini Dahlan pilih di rumah
  • Mayat bayi laki-laki ditemukan di Sungai Kalimalang
  • Pengunjung TMII meningkat tajam, diprediksi tembus 40 ribu orang
  • SHOW MORE