5 Sentilan Anies Baswedan soal Kepemimpinan di Indonesia
Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memaparkan sejumlah terobosan yang dilakukan selama menjadi orang nomor satu di ibu kota. Mulai dari pembangunan, transportasi hingga penanganan Covid-19.
Hal tersebut diungkap Anies dalam acara Workshop Nasional PAN yang digelar di Bali. Dalam paparannya, Anies juga menyinggung soal gaya kepemimpinan di Indonesia.
Lihat juga berita tentang Anies Baswedan di Liputan6.com
Tak Cuma Karya
Anies bercerita tentang gagasan dalam sebuah pengambilan kebijakan. Menurut dia, seorang pemimpin tak bisa hanya memikirkan karya saja tapi tanpa adanya gagasan.
Anies merumuskan pengambilan kebijakan yang dilakukan di Jakarta dalam tiga hal. Yakni gagas, narasi dan karya.
Anies mengatakan, apabila tidak ada gagasan dan narasi, karya tidak memiliki makna. Dia pun menyesalkan sejumlah pihak yang mempersoalkan kata-kata. Sebab, gagasan memang dalam bentuk kata-kata. Menurut dia, jika tak ada kata-kata, maka tidak ada kitab suci.
"Tapi di balik kata-kata ada pesan ada gagasan, munculkan narasinya, baru karya. Kami di Jakarta pegang itu, gagasan, narasi, karya. Jangan sampai karya, karya, karya karya, tapi tidak ada gagasannya," jelas Anies.
Pemerintah Membiarkan Market
Anies kemudian bicara tentang transportasi yang membuat kesetaraan antar sesama warga masyarakat yang beraktivitas di Jakarta. Dia membenahi transportasi dengan tujuan, setiap orang mulai dari presiden, menteri, CEO, office boy sampai pengangguran merasakan kesetaraan transportasi yang sama.
Kata Anies, pihaknya membangun transportasi yang masif. Jalur bus di Jakarta yang awalnya 23 sampai 24 persen, kini menjadi 85 persen wilayah Jakarta. Jumlah penumpang perhari 360 ribu di tahun 2016, kini meningkat menjadi 1 juta orang.
Anies pun bercerita, Jakarta kota yang besar namun seperti terkotak-kotak. Antar warga masing-masing, tanpa ada kesetaraan.
"Karena pemerintahnya membiarkan ini semua diatur oleh market mechanism, tanpa intervensi. Kita tidak usah memerangi pasar, kita mengatur pasar untuk bisa membangun tujuan kita kesetaraan kebersamaan," jelas Anies.
Anies mencontohkan kesetaraan di sekitaran Bundaran HI. Di sana ada tiga mall yakni Grand Indonesia, Plaza Indonesia dan Thamrin City. Kini para pengunjung merasakan fasilitas pejalan kaki yang setara. Meskipun kemampuan ekonomi pengunjung Grand Indonesia dan Thamrin City berbeda.
"Yang masuk Thamrin City tidak berani masuk ke Grand Indonesia, yang masuk Plaza Indonesia tidak akan masuk ke Thamrin City," jelas Anies.
Kata Anies kondisi tersebut tanpa disadari terjadi. Antar warga saling terkotak-kotakan meskipun beraktivitas di wilayah yang sama.
"Negara membiarkan itu hadir, pemprov DKI Jakarta mengubah itu semua. Sekarang semua harus disatukan, lewat apa? Pedestrian jadi satu," kata dia.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya