Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nasib Pilu Penjual Ubi Cilembu di Sumedang, Dagangan Sepi sejak Ada Tol

Nasib Pilu Penjual Ubi Cilembu di Sumedang, Dagangan Sepi sejak Ada Tol Nasib penjual ubi Cilembu di jalur Cadas Pangeran yang kini sepi. ©2023 Dokumentasi Pemkab Sumedang/ Merdeka.com

Merdeka.com - Bungkusan kerupuk dan tape singkong tampak tergantung di atas tumpukan ubi Cilembu yang belum laku di kedai oleh-oleh kawasan Jalur Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Para penjual di sana hanya bisa pasrah menunggu pembeli yang kini makin sepi.

Kondisi ini terus terjadi sejak diresmikannya jalan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) beberapa waktu lalu. Mereka berharap lapak mereka bisa kembali ramai seperti sebelum ada tol, di mana tiap jam pengunjung selalu berdatangan.

“Kalau dulu banyak mobil-mobil yang belanja di kedai-kedai Cadas Pangeran,” kata salah seorang penjual ubi Cilembu dan oleh-oleh Sumedang, Kang Ateng, mengutip kanal YouTube Pemimpin Masa Depan, Jumat (24/2).

Dulunya Jalur yang Tak Pernah Sepi

nasib penjual ubi cilembu di jalur cadas pangeran yang kini sepi

©2023 Dokumentasi Pemkab Sumedang/ Merdeka.com

Kang Ateng mengatakan bahwa dirinya bersama penjual ubi Cilembu dan oleh-oleh di sana hanya bisa pasrah menunggu kembalinya kondisi seperti sedia kala.

Dulunya jalur tersebut merupakan jalur utama penghubung Cirebon-Sumedang–Bandung, sehingga tak pernah sepi dan kerap macet saat musim liburan tiba.

Kondisi ini lantas meningkatkan penjualan oleh-oleh khas setempat seperti ubi madu, kerupuk mlarat, ladu, tahu Sumedang, tape singkong dan makanan-makanan lainnya. Namun saat ini, sudah sangat sepi. Bahkan kendaraan-kendaraan pribadi sudah jarang lewat sehingga jalur tersebut menjadi lengang.

Hanya Bisa Berjualan sembari Menanti Pembeli

nasib penjual ubi cilembu di jalur cadas pangeran yang kini sepi

©2023 Dokumentasi Pemkab Sumedang/ Merdeka.com

Para penjual oleh-oleh di sana kemudian terpaksa tetap berjualan di lokasi, dengan harapan pengguna jalan ada yang membeli dagangan mereka.

Kang Ateng pun tidak bisa menerka-nerka dan tidak tahu kondisi ke depannya jika kondisi warung di sini tetap sepi seperti sekarang.

“ini warung-warung sekarang ya begini, tidak tahu nasibnya ke depan seperti apa,” ucapnya pasrah.

Padahal kondisi lapak mereka sangat teduh dan sejuh karena berada di bawah rindangnya hutan jati. Di sana pun banyak spot-spot yang menarik untuk beristirahat sembari menikmati pegunungan khas Sumedang. Namun pengendara roda empat banyak yang memilih menggunakan tol dengan alasan memangkas waktu tempuh.

Didata Pemerintah

Menanggapi ini, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengan Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, Hari Tri Santosa kemudian melakukan peninjauan ke lokasi. Para pedagang lantas didata untuk difasilitasi agar bisa berdagang di rest area jalan tol.

"Kami terus berkoordinasi dengan para pedagang ubi Cilembu di Cadas Pangeran. Setelah dilakukan pendataan, ada 29 orang pedagang yang selama ini aktif berjualan di sana," terang Hari, Rabu (22/2) lalu seperti dilansir dari laman resmi Pemkab Sumedang.

Hari mengatakan jika pihaknya menerima banyak masukan dari para pedagang, mulai dari menginginkan lapak yang tidak berbayar, dan ingin menjadikan kawasan Cadas Pangeran sebagai salah satu destinasi wisata sehingga pedagang tak perlu pindah dan pembeli bisa kembali berdatangan.

"Para bersedia pindah ke rest area, tapi mereka ingin jongkonya gratis. Tapi ada juga yang menginginkan Cadas Pangeran dibuatkan tempat wisata agar banyak yang berkunjung. Masukan-masukan ini tentunya kami tampung," ucapnya.

Adapun para pedagang sendiri kebanyakan mereka warga Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Mereka mengaku omzetnya turun drastis setelah beroperasinya Tol Cisumdawu.

Minta Pedagang Oleh-oleh Berinovasi

Hari menambahkan jika sepinya pembeli tidak semata karena pengguna jalan yang beralih lewat yol. Ini turut dipengaruhi akibat adanya resesi ekonomi global.

Untuk itu, para pedagang di sana diminta untuk terus berinovasi sehingga memudahkan para pembeli untuk menjangkau dagangannya. Platform online dan media sosial bisa dimanfaatkan sebagai media promosi.

"Karena teknologi sekarang semakin canggih bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Untuk meningkatkan pemasaran selain offline, juga harus online. Promosi harus gencar dilakukan, kuasai media sosial bila perlu masang iklan jalan," terangnya

Selain memanfaatkan platform medsos, penjual juga diminta meningkatkan kualitas dagangannya agar kembali dilirik pembeli.

"Ketika konsumen melewati tol, karena merasa puas terhadap makanan atau layanan yang diberikan, otomatis bakal kangen. Begitu keluar tol akan ingat dan mampir," kata Hari.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP