Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Namanya Jadi Sorotan, Ini 6 Fakta Dokter Terawan Eks Menteri Kesehatan

Namanya Jadi Sorotan, Ini 6 Fakta Dokter Terawan Eks Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Dunia medis tentu tidak asing lagi dengan nama Dokter Terawan. Selain dikenal sebagai dokter, pemilik nama lengkap Terawan Agus Putranto ini pernah jadi sorotan saat menduduki jabatan sebagaiMenteri Kesehatan Kabinet Jokowi Jilid II.

Namun sayang, karier Terawan di sana tak bertahan lama. Ia dicopot setelah baru setahun menjabat. Pria 56 tahun ini dianggap kurang berhasil dalam menangani Pandemi Covid-19 yang terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Belum lama ini, namanya pun kembali jadi sorotan saat Ia mempunyai gagas terkait Vaksin Nusantara. Uji klinis tahap I menuai kontroversi dan tak mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), uji klinis Vaksin Nusantara tahap II tetap dilakukan.

Hal ini yang kemudian menjadi bola panas di kalangan warganet. Banyak pihak beranggapan jika uji klinis Vaksin Nusantara ini seperti memaksakan kehendak dokter Terawan sebagai penggagas vaksin Nusantara.

Berbagai opini liar di dunia maya. Nama Terawan banyak dicari dan jadi sorotan. Tentu banyak pihak yang penasaran siapa sosok dokter Terawan. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut fakta seputar dokter Terawan.

Dokter Spesialis Radiologi

menkes terawan

©2020 Liputan6.com/Faizal Fanani

Dokter Terawan merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Yogyakarta. Usai mendapat gelar dokter, Ia melanjutkan studi di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Pria kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964 ini lulus sebagai Dokter Spesialis Radiologi. Kariernya pun semakin cemerlang saat mengabdi sebagai dokter TNI Angkatan Darat (AD).

Ia bahkan sempat menduduki Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Pada 2019 Ia pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI.

2. Eks Menteri Kesehatan

dokter terawan paparkan progres vaksin nusantara di dpr

©Liputan6.com/Angga Yuniar

Setelah pensiun dari dokter militer, Ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan Kabinet Jokowi Jilid II selama setahun. Kegagalannya dalam menangani pandemi covid-19 disebut sebagai penyebab Terawan dicopot dari jabatannya.

Usai tak menjabat, Terawan kembali menjadi dokter biasa. Bahkan pada Acara Serah Terima Jabatan Menteri Kesehatan RI, 29 Desember 2020 lalu, Terawan menyebut dirinya dari Menteri menjadi Mantri.

Kalimat itu terlontar dari mulutnya setelah Terawan menyaksikan video rangkuman seluruh kegiatan yang dia lakukan selama setahun menjadi Menteri Kesehatan.

Penemu Metode Cuci Otak

menkes terawan kunjungi rs mitra keluarga

©2020 Liputan6.com/Herman Zakharia

 

Sebelum menjadi penggagas Vaksin Nusantara yang menuai banyak kontroversi, sosok Terawan lebih dulu mendapat kritik soal penemuannya terkait Metode Cuci Otak.

Namun karena tak banyak komplain dari masyarakat, Ia beranggapan bahwa tak ada masalah dengan Metode Cuci Otak yang diterapkannya sejak 2005 itu.

Dalam temuannya, Ia menggunakan metode baru untuk menangani pasien stroke yang disebut dengan terapi cuci otak dan penerapan program DSA (Digital Substraction Angiogram). Metode ini telah menyembuhkan 40 ribu pasien.

Kemampuan dokter Terawan dalam menyembuhkan penyakit stroke bahkan sudah banyak diakui di Indonesia maupun luar negeri. Ia juga pernah menangani beberapa tokoh, seperti Wakil Presiden Indonesia ke-6 Try Sutrisno, mantan kepala BIN Hendroproyono, hingga tokoh pres Dahlan Iskan.

Melanggar Etika Kedokteran

001 febrianti diah kusumaningrum

©2018 Liputan6.com

Terkait Metode Cuci Otak, temuan tersebut ternyata menuai kontroversi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan mengecam keras metode tersebut. IDI memberikan sanksi berupa pemecatan selama 12 bulan dari keanggotaan, terhitung dari 26 Februari 2018 hingga 15 Februari 2019.

Tak hanya itu, IDI juga mencabut izin praktek dokter. Keputusan tersebut diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Terawan dianggap melakukan pelanggaran etika kedokteran.

Raih Penghargaan

dokter terawan agus putranto

©Liputan6.com/Angga Yuniar

Meski mendapat kritik, temuan Metode Cuci Otak tersebut justru meraih penghargaan usai Terawan menjelaskan cara kerja metode yang digunakan.

Sebelumnya, dokter Terawan memang sempat menolak menjelaskan di forum ilmiah kepada sesama sejawat kedokteran demi keamanan dan menghindari penyalahgunaan metode cuci otak tersebut.

Namun akhirnya Dokter Terawan mengungkap metode yang dilakukan yakni dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke.

Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada penyumbatan pembuluh di area otak. Ia juga memasukkan cairan Heparin yang bisa memberi efek anti pembekuan darah di pembuluh darah.

Metode pencucian otak atau metode DSA, Dr Terawan kemudian melambung bahkan telah digunakan di Jerman. Metode pengobatan tersebut mendapat nama paten ‘Terawan Theory’.

Dokter Terawan juga meraih penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program Digital Substraction Angiogram (DSA) terbanyak.

Penggagas Vaksin Nusantara

menkes terawan tinjau simulasi vaksin covid 19 di rspi sulianti saroso jakarta utara

©2020 Merdeka.com

Sejak pandemi virus corona merebak di hampir seluruh wilayah tanah air, Dokter Terawan terus melakukan penelitian untuk bisa membuat vaksin. Vaksin Nusantara yang digagas oleh mantan menteri kesehatan ini dikembangkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi, Semarang.

Terawan mengklaim vaksin yang disebut AV-Covid-19 ini merupakan solusi bagi para pengidap komorbid berat serta orang yang memiliki autoimun karena sel dendritik bersifat personalized atau menyesuaikan kondisi setiap pasien. Dia juga mengklaim vaksin Nusantara sangat aman karena sifatnya individual.

Vaksin yang merupakan hasil kerja sama Aivita Biomedical dari Amerika Serikat, Universitas Diponegoro dan RSUP dr Kariadi Semarang ini sudah melewati uji klinis tahap pertama. Namun memasuki uji klinis tahap dua, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan izin uji klinis lanjutan.

Tanpa izin BPOM, uji klinis tahap dua pun tetap dilakukan tim peneliti Vaksin Nusantara. Hal ini yang kemudian membuat nama Terawan kembali jadi sorotan karena Ia merupakan penggagas Vaksin Nusantara ini.

(mdk/mif)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP