Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Letusan Anak Krakatau Terkait Munculnya Gelembung Besar di Selat Sunda?

Letusan Anak Krakatau Terkait Munculnya Gelembung Besar di Selat Sunda? Gunung Anak Krakatau. ©2020 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Beberapa waktu lalu masyarakat pengguna media sosial dihebohkan dengan misteri kemunculan gelembung besar di Selat Sunda, wilayah perbatasan antara Sumatera dengan Jawa (Provinsi Banten).

Dilansir dari dream.co.id, gelembung besar tersebut pertama kali ditemukan BKSDA Bengkulu Lampung saat menjalankan aktivitas patroli di sekitar Cagar Alam Kepulauan Krakatau. Kemunculan gelembung besar juga dikaitkan dengan dugaan akan memunculkan gelombang Tsunami sehingga menggemparkan para pengguna sosial media.

Kemunculan video gelembung tersebut pertama kali diunggah oleh akun sosial media @krakatau_ca_cal, dan langsung mendapat banyak komentar dari warganet. Dilansir dari Liputan6 dijelaskan oleh Daryono, selaku Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG pada Rabu (1/4/2020) mengatakan jika kemunculan gelembung berukuran besar di zona gunung api bawah laut merupakan suatu hal yang biasa dan wajar terjadi.

Hal tersebut menandakan akan adanya aktivitas vulkanisme di bawah laut, selain itu dugaan kuat merupakan aktivitas vulkanisme adalah suhu air yang menjadi hangat mengingat lokasi tersebut berada tidak jauh dari gunung anak Krakatau.

"Aktivitas vulkanisme bawah laut, gunung api aktif biasa seperti itu," ungkap Daryono.

Pasca Letusan Anak Krakatau

anak krakatau

2019 Satellite image 2019 DigitalGlobe, a Maxar

Daryono juga menjelaskan jika kemungkinan bisa dari efek letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terakhir erupsi terjadi pada Maret 2020. Berdasarkan aplikasi resmi Kementerian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tertulis getarannya terekam melalui alat seismograf di pos pantau Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Erupsi terjadi pada Rabu, 18 Maret 2020 yang lalu, sekitar pukul 12.42 WIB.

Pantauan CCTV Lava93 terlihat kala itu ketinggian kolom abu mencapai 300 meter. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berwarna putih kelabu tebal.

Tidak Ada Kaitannya dengan Pertanda Khusus Apapun

gelembung selat sunda

Akun Instagram @krakatau_ca_cal 2020 Merdeka.com

Merespons dari beragam tanggapan warga pengguna sosial media yang merasa panik dan takut akan kejadian tersebut, Daryono pun menegaskan jika kemunculan gelembung besar tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan prediksi datangnya gempa atau tsunami. Hal itu merupakan gejala aktivitas bawah laut biasa. Aktivitas seperti itu bisa terjadi karna berada dikawasan gunung berapi yang kerap memunculkan gas.

Anak Krakatau Meletus Jumat Malam dan Sabtu Pagi Ini

meletus 56 kali

2018 Merdeka.com

Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus pada Jumat (10/4) malam dan Sabtu (11/4) pagi. Pada Jumat malam, terjadi dua kali erupsi dengan ketinggian kolom abu vulkanik yang berbeda. Kini, Gunung Anak Krakatau ditetapkan berstatus Level II atau waspada.Apakah ini terkait dengan gelembung yangs ebelumnya muncul di Selat Sunda?

Dari informasi yang dihimpun merdeka.com, Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 21.58 WIB dengan ketinggian kolom abu vulkanik sekitar 200 meter.

Sementara pada erupsi kedua, kolom abu vulkanik tampak membumbung lebih tinggi yakni sekitar 500 meter di atas puncak gunung. Antara erupsi pertama dan kedua berselang kurang lebih setengah jam.

Status Waspada Gunung Anak Krakatau

letusan gunung anak krakatau

2020 Merdeka.com

Dikutip dari magma.esdm.go.id, kolom abu vulkanik dari erupsi pertama Gunung Anak Krakatau berwarna kelabu dengan intensitas sedang sampai tebal menuju arah selatan. Pada seismograf, erupsi yang terjadi Jumat malam itu menunjukkan amplitudo maksimum 40 mm dengan durasi 72 detik.

Berselang kurang lebih setengah jam, terjadilah erupsi kedua. Sekitar pukul 22.35 WIB, erupsi kedua Gunung Anak Krakatau memiliki kolom abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut.

Berkebalikan dengan erupsi pertama, pada erupsi kedua ini abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang sampai tebal menuju arah utara. Erupsi kedua terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 2.284 detik.

Dengan demikian, Gunung Anak Krakatau ditetapkan berstatus waspada. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di dekat kawah. Jarak minimal yang disarankan untuk masyarakat ialah berada lebih dari 2 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau.

Letusan Terus Berlangsung

gunung anak krakatau

2020 Merdeka.com/liputan6.com

Sabtu (11/4) pagi, tercacat Gunung Anak Krakatau mengalami 5 kali letusan. Sampai berita ini ditulis, setidaknya sudah ada 7 kali letusan Gunung Anak Krakatau dalam dua hari terakhir. Pemantauan Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan letusan terjadi pada pukul 00.06 WIB, 00.09 WIB, 00.15 WIB, 04.19 WIB dan 05.44 WIB.

Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, pada erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini tidak ada bau belerang dan debu vulkanik. Bahkan hujan mulai turun dan masyarakat sekitar mulai kembali ke rumahnya.

Kendatipun demikian, masyarakat masih terus berjaga-jaga dengan melakukan ronda untuk memantau kondisi Gunung Anak Krakatau, sebagaimana disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo kepada awak media.

Ia juga menjelaskan bahwa instansi terkait di Kabupaten Lampung Selatan berkeliling memberi pengumuman kepada warga mengenai kondisi terbaru Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diminta tenang dan tidak panik karena aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sudah reda.

Dentuman Tidak Sampai Jakarta dan Depok

gunung anak krakatau meletus

2020 Merdeka.com

Sempat beredar kabar bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan dentuman di Jakarta dan Depok. Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa dentuman keras yang terdengar di Jakarta sampai Depok bukan karena Gunung Anak Krakatau.

"Terlalu jauh jika terdengar hingga Jakarta dan Depok," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kasbani di Jakarta, Sabtu (11/4), sebagaimana dikutip dari liputan6.com.

(mdk/paw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP