Kenali HIV/AIDS, Mulai Dari Gejala hingga Pengobatan yang Harus Dijalani
Merdeka.com - Banyak yang mengira HIV dan AIDS adalah satu kesatuan yang sama. Padahal, HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda. Sering dikira sebagai satu kesatuan, HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan. Sederhananya, HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS.
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. HIV secara spesifik menyerang dan menghancurkan sel CD4 yang menjadi bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan infeksi.
Sedangkan AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV, yaitu ketika kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah tidak ada lagi. Dengan pendeteksian dan penanganan dini, penderita HIV tidak akan naik kelas menjadi AIDS.
Gejala yang Dialami

2018 Liputan6.com
Tahap PertamaDilansir dari Klikdokter.com, orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami sakit mirip seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan. Kemudian, setelah kondisi tersebut, HIV dapat tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Fase ini disebut sebagai serokonversi.
Gejala yang paling umum terjadi adalah:
Namun, gejala di atas bisa saja merupakan gejala dari penyakit lain. Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, harus dilakukan tes HIV. Semakin cepat kondisi diketahui, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan semakin tinggi.
Tahap KeduaSetelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun. Dalam periode ini infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pengidap akan tetap merasa sehat. Bahkan, ia bisa saja sudah menularkan infeksi kepada orang lain. Tahap ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.
Tahap KetigaTahap ini disebut juga sebagai tahap HIV simtomatik. Apabila pengidap HIV tidak mendapat penanganan tepat, virus akan melemahkan tubuh dengan cepat. Pada tahap ketiga ini, pengidap lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini dapat berubah menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Berikut adalah gejala-gejala yang muncul:
Diagnosis
Satu-satunya cara untuk mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak adalah dengan melakukan tes HIV yang disertai konseling.
Layanan tes HIV dan konseling ini disebut sebagai VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela). Tes ini bersifat sukarela dan rahasia. Pertama, konseling akan diberikan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko infeksi, pola hidup keseharian, serta cara menghadapi hasil tes jika terbukti positif.
Setelah itu akan dilakukan tes HIV, yakni tes darah untuk melihat adanya antibodi terhadap HIV di dalam sampel darah. Jika hasil tes negatif tetapi konseling menyimpulkan bahwa yang bersangkutan memiliki faktor risiko cukup besar, maka tes HIV akan diulang satu sampai tiga bulan setelah tes pertama dilakukan.
Sangat dianjurkan untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat (klinik VCT) untuk tes HIV jika Anda memiliki risiko terkena virus tersebut.
Pengobatan yang Harus Dijalani

Shutterstock/wavebreakmedia
Orang yang sudah terinfeksi akan terus memiliki virus HIV seumur hidupnya. Dengan begitu, pengobatan HIV pada orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) juga harus dilakukan seumur hidup. Sayangnya, hingga kini belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menghilangkan virus HIV dari dalam tubuh.
Selama ini, pengobatan HIV yang digunakan yaitu antiretroviral (ARV), terdiri dari beberapa jenis. ARV yang berfungsi untuk menghambat perkembangan virus, meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV, serta menurunkan risiko penularan.
Obat-obatan Darurat Awal HIV
Apabila seseorang merasa atau mencurigai dirinya dalam rentang waktu 3x24 jam baru terinfeksi virus, dapat mengonsumsi obat anti HIV yang bisa mencegah terjadinya infeksi. Obat ini bernama post-exposure prophylaxis (PEP). Profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada mengobati.
PEP harus segera dimulai, maksimal tiga hari setelah terpapar terhadap virus. Pengobatan memakai PEP berlangsung selama sebulan. Tidak ada jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil.
Obat-obatan Antiretroviral
Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. ARV akan memperlambat pertumbuhan virus. Seiring berjalannya waktu, HIV bisa menjadi kebal terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu, kombinasi golongan ARV akan diberikan pada penderita. Misalnya:
Begitu pengobatan HIV dimulai, obat tersebut harus dikonsumsi seumur hidup. Jika satu kombinasi ARV tidak berhasil, bisa dikonsultasikan untuk menggantinya ke kombinasi ARV lain.
Pengobatan HIV baru bisa berhasil jika pengidap mengonsumsi obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali minum obat). Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya bisa meningkatkan risiko kegagalan.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya